Monday, December 20, 2010

The Sorcerer's Apprentice - "Secrets" by OneRepublic




December 21 such a sad day,,,,,,,,,
Let the song takes its toll ..

Thursday, October 28, 2010

longest

Old 07-07-2010, 02:22 PM #93
Cikgu biologi 2

CIKGU BIOLOGI 2

Oleh: Teratai

Ketika Rina berjalan menuju keretanya selepas tamat persekolahan hari itu, perhatiannya tertumpu pada seorang muridnya yang duduk di atas motorsikal di samping keretanya. Rina memang kenal murid itu, namanya Reza. Reza memang terkenal dengan nakalnya dan ketua kumpulan budak-budak yang selalu membuat masalah. Hatinya agak tidak tenteram melihat situasi ini.

"Cikgu Rina, salam dari Lim, " Reza melemparkan senyum sambil duduk di s motornya.

" Terima kasih, boleh saya masuk? "


Dengan hati yang bercampu-baur Rina meminta izin muridnya sendiri kerana motor Reza menghalang pintu keretanya.

" Boleh.. boleh cikgu, saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Lim."

Langkah Rina terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskipun dia amat terperanjat dengan permintaan itu.

"Saya rasa pelajaran kamu okey, tak perlu pelajaran tambahan," jawab Rina perlahan sambil melangkah masuk ke dalam keretanya.


"Saya nak belajar pelajaran biologi, pelajaran reproduksi. Kalau cikgu tak sudi saya akan minta pengetua mengajar saya sambil melaporkan pelajaran Lim, " Reza tersenyum penuh kemenangan.

" Apa hubungannya, saya tak faham?" Keringat mulai membasahi dahi Rina.

" Sudahlah kita sama-sama tahu cikgu. Saya jamin pasti puas."

Tanpa menghiraukan muridnya, Rina memandu kereta pulang ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya hingga hilang d iselekoh di belakangnya.

Setelah mandi air hangat dan minum segelas air dari peti sejuk, Rina menuju ruang tamu untuk menonton tv. Namun ketika ia hendak duduk tia-tiba pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia mengira Lim yang datang.


"Reza! Kenapa kamu mengikut saya?" Rina terperanjat melihat Reza berdiri di hadapannya.

"Boleh saya masuk?"

”Tidak!"

"Cikgu mahu rahsia cikgu dengan Lim diketahui cikgu lain?"

Dengan geram ia mempersilakan Reza masuk. Rina berdebar-debar. Dia amat yakin Reza telah mengetahui rahsianya dengan Lim.

"Cantik rumah cikgu," dengan santainya Reza duduk di dekat tv. " Patutlah Lim seronok datang ke sini.”


"Apa hubunganmu dengan Lim? Itu urusan kami berdua,” dengan rasa dongkol Rina bertanya.

"Dia kawan rapat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua. Jadi ertinya....” Reza sengaja membiarkan kata-katanya tergantung.

Kali ini Rina benar-benar mati akal. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suasana di ruang tamu menjadi sepi dan kaku.

"Cikgu, kalau saya ingin melayan lebih baik dari Lim, cikgu mau?" Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rina.

Rina tidak mampu menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Belum sempat ia menjawab, Reza telah membuka zip celananya. Dan setelah beberapa ketika batang pelirnya meyembul keluar dan telah berada di hadapan Rina.

"Bagaimana cikgu, lebih besar dari Lim kan?”


Reza ternyata lebih agresif dari Lim, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan butuhnya ke mulut Rina.

"Mmmmppphhhh...."

"Ahh yaa.. memang cikgu pandai dalam hal ini. Nikmati saja cikgu... "

Rupanya nafsu menguasai diri Rina, menikmati butuh yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai gula-gula. Dijilatinya kepala pelir muridnya itu dengan semangat. Tak guna dia membantah kalau akhirnya itu juga yang perlu dilakukannya. Lebih baik dia menikmatinya saja. Spontan saja Reza merintih keenakan.

"Aduhh... sedapnya cikgu. Ooohhhhh.."


Reza mengayak-ayak batang pelirnya ke dalam mulut Rina, sementara tangannya meramas-ramas rambut gurunya itu. Rina merasakan ketulan daging yang dimamahnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar.

"Oooohhh.. cikgu enakkk..enakkk ..aahhhhhhhhhh.."

Cairan mani Reza memancut di mulut Rina, dan segera ditelannya. Dijilatnya batang pelir yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.

"Sudahh.. sudah selesai kamu boleh pulang."


Namun Rina tidak mampu melawan perasaannya sendiri. Ia menikmati mani Reza yang berlemak itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika butuh besar itu masuk ke lubangnya. Serentak itu lubang buritnya terasa hangat, geli dan gatal-gatal.

"Belum selesai lagi cikgu. Itu hanya pembuka selera saja. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya."

"Apa!! beraninya kamu!"


Rina pura-pura membentak dan membantah. Namun dalam hatinya ia mau. Justeru itu tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.

Setelah berada di dalam bilik tidur, Rina tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh, dugaannya pasti Reza sedang melepaskan pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejak Reza. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing bajunya..

"Sini saya teruskan.." ia mendengar Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing bajunya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah baju yang dipakai Rina terbuka, tangan muridnya itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga merasakan batang pelir pemuda itu di antara belahan pantatnya.

"Besarnya batang budak ini," fikir Rina cuba membandingkan dengan Lim. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos.

Butuh Reza digosok-gosokkan di antara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meramas payudaranya. Ketika jemari Reza meramas puting susu Rina, erangan kenikmatan pun keluar.

"Mmmmm... oohhhhh....”


Reza tetap melakuka aksi peramasan itu dengan satu tangan, sementara tangan yang satu lagi melakukan operasi ke celah paha Rina.

"Reza aaahhhhhh...." Tubuh Rina menegang ketika benjolan klitorisnya ditekan-tekan oleh Reza.

"Enak cikgu?" Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.

Rina hanya mampu mengerang, mendesah, dan berteriak lirih ketika usapan, ramasan dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya.

Tiba-tiba Reza menolak perlahan tubuh Rina agar membongkok. Kakinya di lebarkan. Rina berdiri dengan kedua kaki terbuka luas.

"Kata Lim ini posisi yang disukai cikgu."

"Ahhhh....." Rina mengerang ketika Reza dengan keras membenamkan batang besar dan panjangnya ke liang cipapnya dari belakang.


"Uggghhhhh....." Reza medengus penuh ghairah dengan tiap tikaman baatang pelirnya ke lubang burit Rina.

Rinapun merengek dan mengerang kenikmatan ketika liang nikmatnya yang sempit itu dibolosi secara cepat.


"Aahhh ..terussss terussss Rezaaa ... "

Kepala cikgu cantik dan bergetah itu berayun-ayun akibat tikaman-tikaman Reza. Tangan Reza mencengkam bahu Rina, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin cepat saja menelan butuhnya. Tiap kali pinggulnya ditolak ke depan akan diikuti serentak dengan tarikan bahu Rina ke belakang. Dengan cara itu batang pelirnya terbenam dengan dalamnya hingga ke pangkal. Rina dapat merasanya pangkal rahimnya disondol-sondol oleh kepala pelir Reza. Dia mengerang bertambah kuat.

"Ooohhh Rina... Rinnnaaaaaaa.."


Reza meracau dan tidak lagi memanggil cikgu kepada gurunya itu. Cairan maninya terasa sudah bergerak laju di dalam batang pelirnya. Bila-bila masa cairan nikmatnya itu akan memancut keluar. Badannya mengejang dan otot-otot badannya mengeras kaku.

Rina segera merasakan cairan hangat menyembur di dalam rahimnya dengan deras. Matanya terpejam menikmati perasaan yang tidak bisapernah ia bayangkan. Kesedapannya melebihi dari apa yang ia perolehi dari Lim. Pemuda melayu ini memang hebat. Risa dalam diam mengakui kehebatan Reza.

Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu lurah merekahnya sangat basah, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba gua keramat Rina, kemudian dimain-mainkan biji kelentit gurunya yang merah dan menonjol.

"Mmmmm.. letih..."


Bibir Rina mendesah ketika kelentitnya dipermainkan. Sebenarnya ia sangat kepenatan tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan permata nikmatnya.

"Reza... aahhhh..."


Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang ketika Reza mempercepat permainan tangannya. Permata nikmat itu digosok-gosok lembut dengan jari-jarinya. Rina kemudiannya menjerit histeria bila lidah Reza berlegar dan menyedut daging lembut yang sensitif itu. Cairan hangat mencurah-curah keluar dari terowong Rina.

”Tungging cikgu, teringin lagi.”


"Kamu ni tak puas-puas ke?" Rina bersuara manja sambil tersenyum-senyum. Sempat juga dia menjeling batang zakar Reza yang kembali mengeras.


“Barang cikgu sungguh sedap. Saya sanggup tak makan kalau boleh bersama dengan cikgu.”

“Kalau kamu tak makan macam mana batang kamu nak keras. Saya tak suka batang lembik.”

Sambil tersenyum nakal, Rina bangkit dan menungging. Sempat juga dia melurut-melurut alat kelamin muridnya yang hangat dan keras itu sebelum kedua tangannya memegang kayu kepala katil tempat tidurnya.

Matanya terpejam menanti tujahan pelir Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkam dengan kuat bila ia membenamkan kepala butuhnya yang sudah tegang.

"Adduuuuhhhh...."


Rina mengaduh nikmat kemudian menggigit bibirnya, ketika lubang kemaluannya yang telah licin melebar kerana desakan pelir Reza.

"Lubang cikgu sungguh enak, ketat. Macam lubang anak dara, " Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.

"Burung kamu juga sedap..."


Rina benar-benar menikmati permainan muridnya itu. Tak sangka muridnya itu amat pandai melayannya. Reza sungguh berpengalaman. Berkali-kali Rina mengalami orgasme dikerjakan oleh muridnya itu. Hanya erangan dan jeritan nikmat yang keluar dari celah-celah bibir mungilnya.

“Sedap dan hangat lubang cikgu. Patutlah Lim kata kotenya macam terbakar bila berada dalam lubang cikgu.”

“Itu kerana Lim tak sunat. Kepala burungnya lebih sensitif.”

Rina memegang erat kepala katil. Badannya digerakkan untuk mengimbangi serangan Reza. Nikmat dan nikmat saja dirasainya bila batang pelir Reza keluar masuk dalam lubang buritnya. Nikmatnya bertambah-tambah bila kedua teteknya diramas-ramas.


“Kata Lim cikgu suka kote tak sunat.”

“Saya suka main-main dengan kulit muncung di kepala kote Lim tu.”

“Saya punya tak sedap ke, cikgu?” Reza bertanya sambil menghentak kuat di pantat cikgu cantik itu.

”Sedap, lebih sedap dari Lim punya.”


Reza tersenyum dengan pujian Rina. Sodokan dan tikamannya makin laju dan kuat dalam posisi "doggy style". Buah dada dan badan Rina terayun-ayun. Keenakan kembali menjaliri sekujur badan wanita muda itu. Kenikmatan yang diperolehi dari remaja yang masih bersekolah itu sungguh hebat. Rina tak menyangka murid-muridnya yang masih muda belia ini mampu memberi kepuasan tak terhingga kepadanya. Mengalahkan permainan suaminya dulu.

"Oooowww......."

Jeritan Rina terdengar kuat ketika ia menikmati orgasmenya. Tangannya mencengkam kepala katil. Kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan torpedonya ke lubang burit Rina yang makin basah dan banjir.

“Aaahhhhhh.."

Rezapun mulai bersuara. Bila-bila masa maninya akan terpancut keluar. Dia tak mampu lagi bertahan bila badannya kembali mengejang. Batang pelirnya terasa makin keras dalam lubang Rina yang hangat. Akhirnya benih-benih budak remaja itu memancut keluar menyirami rahim cikgunya sendiri.

Rina sekali lagi memejamkan matanya, ketika mani Reza menyembur dalam liang cipapnya. Terasa hangat di pangkal rahimnya. Rina kemudian tersungkur ke atas tilam sambil tubuh Reza menindihnya. Murid dan guru keletihan penuh nikmat. Badan kedua-duanya basah dengan peluh. Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan bersama.


"Cikgu Rina sungguh luar biasa. Kalaulah ada Lim di sini sekarang... "

"Memangnya kamu mau apa."


Rina kemudian merebahkan badannya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap puting tetek Reza. Badan muridnya itu dipeluk mesra.

"Kita boleh main bertiga cikgu, pasti lebih nikmat .."


Rina terperanjat dengan cadangan muridnya itu. Dia tidak mampu berkata-kata. Perasaannya bingung dan kosong. Dia termenung beberapa ketika. Tiba-tiba timbul keinginannya untuk bermain bertiga, “threesome”. Pasti nikmat bila dua batang pelir berlegar-legar dalam mulut dan lubang buritnya secara serentak. Satu batang bersunat dan yang satu lagi berkulup. Rina ingin merasainya....


...bersambung bahagian 3.

---
...


Last edited by teratai; 06-08-2010 at 10:12 PM.
Hardcore Kakis

teratai's Avatar

Join Date: Jan 2007
Posts: 267
Reply With Quote Multi-Quote This MessageReport Post
Old 27-07-2010, 05:10 PM #94
Cikgu biologi 3

CIKGU BIOLOGI 3

Oleh: Teratai

Pagi itu selepas habis kelas, Rina pulang ke bilik guru. Dia menuju ke meja kerjanya di bahagian belakang di sisi kanan bilik guru yang dihias cantik itu. Bilik itu terasa sejuk kerana pendingin hawa terpasang, berbeza dengan bilik kelas yang hangat dan pengap.

Di atas mejanya ada sekeping sampul ukuran 4x9 berwarna coklat, di bahagian atasnya tertulis Urusan Seri Paduka Baginda. Dengan perasaan berdebar Rina mencapai sampul tersebut dan membukanya. Surat putih di dalamnya ditarik keluar dan diperhati dengan perasaan ingin tahu. Di bahagian atas sebelah kiri memang jelas tertulis namanya.

Pelan-pelan Rina membacanya dan hatinya berbunga bila dia ditawarkan kenaikkan pangkat ke Gred DG44. Dibacanya lagi dan dia diarah untuk bertukar ke bandar lain dan diarah melapor diri dalam tempoh empat belas hari. Rina amat gembira dengan berita baik ini. Dia terasa khidmatnya selama ini telah dihargai.

Dengan arahan pertukaran ini bermakna Rina harus berpisah dengan kedua murid yang disayanginya. Lim dan Reza, dua murid yang sentiasa memberi kepuasan dan kenikmatan kepadanya. Jiwa kosongnya terisi bila bersama kedua muridnya itu. Hari-hari sepinya menjadi lebih ceria bila salah seorang dari mereka berkunjung ke rumahnya. Selepas waktu sekolah tengah hari itu dia menghubungi Lim supaya datang ke rumahnya kerana ingin memberitahu tentang pertukarannya.

Petang itu Lim datang ke rumah Rina seperti di suruh. Lim bertanya-tanya dalam hati kenapa Cikgu Rina memanggilnya. Bagi Lim dia sentiasa bersedia ke rumah Cikgu Rina pada bila-bila masa diperlukan. Dia tahu dia akan mendapat hadiah yang paling nikmat. Selama ini dia tidak pernah pulang sia-sia.


"Cikgu rindukan saya ke?" Gurau Lim bila sudah berada dalam bilik ramu rumah Cikgu Rina.

"Ia... Saya juga ingin beritahu bahawa saya dinaikkan pangkat dan akan berpindah.”


”Tahniah, ini berita baik, cikgu.”


“Mungkin hari ini adalah pertemuan terakhir kita.” Mata Rina berkaca-kaca ketika mengucapkan itu.

"Aaaaa..." Lim terkelu. Ia terkejut mendengar berita itu. Baginya Rina merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah mendapatkan pelajaran berharga dari gurunya itu.

"Tapi kita masih boleh berhubungan surat atau emel."

”Boleh cikgu, boleh.” Jawab Lim tergagap-gagap.


"Minum dulu teh ais atas meja tu. Lepas minum mari lihat VCD di bilik."

Rina mengerling nakal ke muridnya sambil beranjak ke kamar. Di kamar ia menyalin pakaiannya dengan kimono kegemarannya. Bra di badannya dilucut dan VCD player dihidupkan. Rina meniarap sambil menonton VCD yang bertajuk “modern Kamasutra”.


Di luar Lim menikmati teh ais yang disediakan Rina dan membiarkan pintu depan tidak terkunci. Ia mempunyai rancangan yang telah disusun rapi. Dibuat secara rahsia.


Lim kemudianmenyusul Rina ke kamar tidur. Sebaik saja pintu dibuka ia melihat gurunya meniarap di katil menonton VCD dengan dibaluti kimono merah tipis. Lekuk-lekuk tubuhnya jelas terlihat. Rambutnya yang panjang terurai di belakangnya bagai gadis iklan shampoo Pantene.

Tanpa perlu disuruh, Lim berbaring di sebelah gurunya. Dia jug meniarap seperti Rina.

"Sudah lihat filem ini belum? Bagus untuk info posisi-posisi seks. "


"Belum cikgu."


Mata Lim tertuju pada seorang lelaki perkasa sedang berdiri membelakangi pokok sambil si wanita mencangkung di hadapannya. Si wanita membelai zakar lelaki yang besar panjang separuh keras. Si wanita melancap perlahan-lahan zakar lelaki memperlihatkan kulupnya terbuka dan tertutup. Kemudian dengan geram si wanita memasukkan kulup itu ke dalam mulutnya dan menjlat penuh nafsu. Lim tahu cikgunya menyukai zakar tak bersunat.

Puas mejilat, si wanita bangun berdiri dan menghadp ke pokok sambil memegang batang pokok. Si lelaki bergerak ke belakang dan memasukkan zakarnya dari belakang, sambil meramas-ramas payudara pasangannya. Si wanita menjerit penuh nikmat.

"Mmmmm.. itu posisi favourite saya. Kalau kamu suka nanti CD itu kamu ambil."

"Thanks, cikgu." Lim kemudian mengecup pipi gurunya.

Adegan demi adegan terus berganti, suasana pun menjadi semakin panas. Rina kini meniarap dengan tidak lagi mengenakan selembar benangpun. Begitu juga Lim.

Lim kemudian duduk di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Rina dengan lembut, kemudian disibakkannya ke sebelah kiri. Bibir Lim kemudian membelai tengkok Rina, dijilatnya rambut-rambut halus yang tumbuh menghiasi leher jenjang itu.


"Aaahhh...." Rina mengeluh nikmat.


Setelah puas, Lim kemudian memberi isyarat pada Rina agar duduk di pangkuannya.

"Cikgu, biar saya yang puaskan cikgu hari ini." Bisik Lim di telinga Rina.


Rina yg telah duduk di pangkuan Lim pasrah saja ketika kedua tangan muridnya meramas-ramas payudaranya yang liat. Kemudian ia menjerit lirih ketika puting susunya mendapat ramasan dan belaian.

"Aahhh...." Rina memejamkan matanya.

"Lim, jilat cikgu."

”Jilat apa, cikgu?”


“Jilat itulah.”

“Cakap betul-betul cikgu.” Lim mendera cikgunya itu.

“Jilat kelentit cikgu.” Jawab Rina sambil menunggu.

Lim kemudian merebahkan Rina, dibukanya kaki gurunya itu lebar-lebar, kemudian dengan perlahan ia mula menjilat kemaluan gurunya. Bau khas dari vagina yang telah basah kerana gairah itu membuat Lim kian bernafsu.

"Ooohhhh...." Rina bergetar merasakan kenikmatan itu.

Tangannya membimbing tangan Lim supaya meramas susunya. Memberikan kenikmatan ganda.

"Jilat kelentit, Lim."


Bagai diarah Lim menjilat biji kelentit Rina dengan penuh semagat. Dia ingin memberi kepuasan maksima kepada gurunya kali ini. Mungkin ini adalah kali terakhir dia dapat menikmati gurunya itu.

"Aduuhh... sedapnya." Rina mengerang.

”Burung nak masuk saranglah cikgu.” Kata Lim selepas bertungkus lumus mengerjakan kelentit Rina.


”Nanti dulu Lim, saya ingin menikmati burung kamu.”


Zakar Lim sudah lama tegang tapi masih belum begitu mengeras. Dan kepala zakarnya sudah mulai sedikit keluar. Rina memegang batang muridnya itu dan dengan dua tangannya di pegang kulit kulup sehingga muncung kulup kembali tertutup. Rina suka memainkan kulup zakar yang tebal dengan lidahnya ketika zakar belum sepenuhnya menegang. Ditariknya kulup ke hujung, membuat kepala zakar Lim tertutup kulupnya dan sepantasnya dikulum.

Rina memasukkan hujung lidahnya ke dalam kulup dan memutarkan lidahnya membelai kepala zakar di dalam sarung kulup. Rina amat menyukainya dan dirasai cukup enak. Tapi semuanya itu berlaku sekejap saja kerana dengan cepatnya zakar Lim mengembang dan kepalanya akan meluncur keluar. Lim menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidah gurunya yang cantik itu.

“Masukkan cikgu, dah tak tahan ni.”

Rina hanya mengangguk walaupun dia belum puas menyonyot zakar Lim, matanya kelihatan kuyu. Lim kemudian mengangkang kedua kaki Rina dan mengangkat ke bahunya. Lurah Rina terbuka luas, merah dan basah. Dengan cepat Lim membenamkan batang pelirnya ke lubang syurga Rina yang sudah banjir.

"Aaahhhhh...."

Rina menggigit bibirnya. Meskipu lubang vaginanya telah licin, namun batang yangg besar itu tetap saja agak sukar menyelam masuk.

" Uuhhh... masih susah juga cikgu. Ketatnya."


Lim sambil meringis mula memaju mundurkan batang zakarnya. Kulupnya dirasakan tertolak ke belakang hingga kepala zakarnya terloceh kerana sempitnya lubang Rina. Dia dapat merasakan batang pelirnya bagai diramas-ramas oleh tangan yang sangat halus ketika berada di dalam lubang enak cikgunya.

Tangan Rina mempermainkan putting Lim. Dengan geramnya dicubitnya hingga Lim menjerit.

"Uhh... nakal. Ini balasannya!" Lim menekan dengan kuat, lebih kuat dari tadi hingga seluruh batangnya terbenam.


"Aaaaaa......"

Tiba-tiba pintu kamar tebuka. Spontan Rina terkejut, tapi bukan Lim. Reza sudah berdiri di muka pintu, senjatanya telah tegak berdiri.

"Mmmm.. hot juga permainan cikgu dengan dia, boleh saya join? " Reza kemudian berjalan mendekati mereka.

Rina yang hendak berdiri ditahan oleh Lim, yang tetap menjaga balaknya di dalam burit Rina.

"Nikmati saja, cikgu..."


Reza kemudian mengangkangi Rina, zakarnya berada tepat di muka Rina.


“Hisap cikgu.”

Reza merapatkan batang kerasnya ke mulut Rina. Rina membuka mulut sambil Reza memasukkan batang pelirnya ke dalam mulut mungil Rina.
Rina menghisap-hisap pelir Reza sementara Lim dengan ganas menggarap lubang buritnya.

"Uuuff... jilat cikgu," tangan Reza memegang kepala Rina, agar semakin dalam batang pelirnya berada dalam mulut Rina.

Posisi itu tetap bertahan beberapa ketika hingga akhirnya Lim memancutkan maninya terlebiih dulu. Maninya menyembur dengan leluasa di lubang vagina gurunya yang cantik. Sementara Reza tetap mengerang-erang sambil medorong-dorong kepala Rina.


Akhirnya Lim mengalah, ditariknya batangnya yang lembih keluar dari lubang Rina. Cairan pekat warna putih ikut sama keluar.


"Berdiri menghadap dinding, cikgu."

Rina masih keletihan. Ia telah mengalami orgasme pula ketika Lim memancutkan mani panas ke pangkal rahimnya. Dia ingin menjerit kerana kesedapan namun ia tidak mampu melakukannya kerana ada batang pelir di mulutnya.


Dengan badan terhoyong-hayang kerana lututnya masih lemah dia berdiri dengan tangan di dinding menaha tubuhnya. Melalui rekahan burit Rina terlihat cairan putih kental mengalir keluar.

"Lim, tengok tu awak punya."


Reza tersenyum sambil menjuih bibirnya ke arah punggung Rina. Ia kemudian merapatkankan tubuhnya ke tubuh Rina. Kepala zakarnya yang membengkak diarahkan tepat ke rekahan di antara kedua belahan pantat Rina.

"Rasakan saya punya pula, cikgu."

Lim dengan santai menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Reza memegang pinggang Rina ketika ia menyodok-nyodokkan zakarnya keluar masuk dengan cepat. Pada ketika Rina merintih-rintih menikmati permainan mereka, Lim merasakan pelirnya mengeras lagi. Dia tidak tahan melihat pemandangan yg sangat erotik sekali. Kedua insan itu saling mengaduh, mendesah, dan berteriak lirih seiring kenikmatan yang mereka berikan dan rasakan.

"Oooowww...."


Tubuh Rina yang disangga Reza menegang, kemudian lemas. Lim menduga mereka berdua telah sampai di puncak kenikmatan. Kedua-duanya terguling keletihan di atas tilam. Nafas keduanya laju bagaikan atlet 100 meter setibanya di garis penamat.

Lim tak sanggup menunggu lama. Batang kerasnya perlu dilayan. Tanpa memberi peluang Rina berehat, dia merangkul gurunya itu dan mengangkat hingga Rina pada posisi merangkak.

Dirapatkan batang pelirnya yang keras dari belakang. Ditekan hingga batangnya terbenam dalam kedudukan anjing mengawan. Disorong tarik dengan laju hingga badan Rina terhinggut-hinggut. Teteknya yang tergantung terhayun-hayun mengikut gerakan tikaman Lim.

"Lim, aaahhhh..."

Lagi-lagi Rina mengerang ketika batang Lim masuk dan keluar dengan laju. Pinggangnya dipegang erat oleh Lim.

"Ooohh... aaahhh....”

Rina menjerit kuat sekali. Lim juga mendengus seirama dengan Rina. Kedua-duanya sedang menikmati orgasme yang amat enak. Cairan panas menyiram kepala pelir Lim yang terloceh. Pangkal rahim Rina hangat disiram oleh benih-benih Lim.


Adegan hangat petang itu diakhiri dengan kedua batang kepunyaan murid serentak masuk ke dalam lubang nikmat cikgu. Reza terlentang di tilam sementara Rina mengangkang dari atas sambil meniarap di dada Reza. Lim rapat di bahagian belakang memasukkan batangnya dari belakang.

Diakhir adegan ketiga-tiganya meraung penuh nikmat. Ketiga-tiganya puas. Petang itu merupakan hari yang liar tapi indah bagi ketiga insan yg akan berpisah itu. Pelajaran biologi yang diberikan oleh cikgu yang cantik sungguh berkesan. Detik yang tidak akan mereka lupakan untuk selama-lamanya.


...
Hardcore Kakis

teratai's Avatar

Join Date: Jan 2007
Posts: 267
Reply With Quote Multi-Quote This MessageReport Post
Old 06-08-2010, 08:06 PM #95
Wanita kota pemuda desa

WANITA KOTA PEMUDA DESA

Oleh: Teratai

Sebagai seorang eksekutif IT di sebuah syarikat multinasional, Nurul Shahira amat sibuk. Baru-baru ini syarikatnya mendapat projek jutaan ringgit bagi membekalkan perisian kepada sebuah jabatan kerajaan. Beberapa bulan Nurul tidak dibenarkan bercuti. Tak kira siang atau malam dia terpaksa bersengkang mata di hadapan monitor komputernya.

Apabila projeknya siap dan ketuanya amat berpuas hati dengan kerja-kerja cemerlangnya, sebagai ganjaran Nurul diberi cuti selama sebulan. Nurul berkira-kira apakah yang perlu dilakukan dengan cutinya itu. Selama sebulan itu dia tak mahu memikirkan sebarang kerja. Dia ingin benar-benar merehatkan mindanya yang amat penat. Dia ingin lari jauh dari kesibukan pejabat dan ibukota.

Akhirnya Nurul membuat keputusan untuk bercuti ke kampung bapa saudaranya yang berada jauh di kaki gunung. Nurul ingin menikmati kesegaran alam yang belum tercemar. Dia ingin memenuhi paru-parunya dengan udara pergunungan yang segar. Mak long ibu saudaranya adalah kakak kepada ibunya. Dia memang kenal rapat dengan keluarga mak longnya. Mak long yang hanya tinggal berdua dengan suaminya amat merindui kedatangan anak saudaranya itu.

Keadaan kampung yang agak jauh dari bandar itu memang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kenderaan yang lalu lalang. Kampung tersebut hanya dihubungi jalan tanah merah. Tiada elektrik dan tiada paip air. Sumber air hanya dari anak sungai maupun perigi yang digali di belakang rumah.

Selain hanya berehat-rehat di rumah sambil membaca novel yang dibawanya, sekali-sekala Nurul memandu kereta Honda Civicnya ke kedai Pak Akub yang menjual barang-barang runcit. Di bahagian samping kedainya Pak Akub membina gerai menjual minuman dan kuih-muih. Di gerai itulah anak-anak muda kampung dan juga penduduk kampung yang lainnya bersantai minum-minum kopi dan berborak kosong.

Nurul singgah di kedai Pak Akub untuk membeli kuih-kuih kampung yang cukup sesuai dengan seleranya. Petang itu ramai lelaki tak kira tua atau muda yang sedang berbual kosong melirik ke arah perempuan muda yang sedang berjalan mendekati gerai. Kerana Nurul satu-satunya peremuan pada masa itu maka berpasang-pasang mata mengarah kepadanya. Apalagi gadis bandar yang berkulit putih, berambat ikal paras bahu tak bertudung itu memang cantik. Bau minyak wangi buatan luar negeri yang dipakainya juga harum. Kembang kempes hidung penduduk kampung yang berada di gerai itu. Nasib baik waktu itu masih siang, kalau malam mungkin mereka dah lari lintang-pukang kerana disangka pontinak harum sundel malam.

Sepanjang berada di kampung, Nurul memang benar-benar ingin bebas. Cara berpakaiannya pun tidak mengikut protokol sepertimana ke pejabat. Dia jarang memakai bra maunpun seluar dalam. Hanya pakaian luar saja dikenakan ke tubuhnya. Hari itu dia hanya mengenakan baju kurung kedah dan berkain satin putih. Apabila angin bertiup pakaiannya melekat ke badannya. Jelas kelihatan dadanya yang membulat dan pejal. Malah putingnya yang coklat kemerahan terbayang kelihatan di bawah baju yang dipakainya.

Semua mata yang berada di situ sedang memokuskan kepada insan cantik yang bertubuh mengiurkan itu. Bila dihembus angin, kain satin yang nipis itu benar-benar membalut tubuh gadis bandar itu. Jelas lekuk-lekuk di badan Nurul kelihatan di sebalik kain satin nipis itu. Tundun Nurul yang tembam dan membukit itu membuatkan mata-mata yang memandang terbuka luas bagaikan ingin terkeluar biji matanya. Pameran indah ini berjaya membuat sebahagian senjata lelaki yang berada di situ mengeras di dalam kain sarung masing-masing. Masing-masing berangan-angan untuk berasmara dengan perempuan muda dari kota yang cantik lawa.

Stapa yang duduk berdekatan dengan meja kuih terasa geram dan seperti hendak mencekup saja tundun Nurul itu. Kalau ikutkan hati, mahu saja di sentap kain satin Nurul dan tujah burit Nurul depan semua orang waktu itu juga. Namun fikiran warasnya masih menguasai dirinya. Bagaikan hendak meleleh air liur Stapa bila membayangkan benda sedap di sebalik kain satin putih bidadari di depannya itu. Basah kepala pelirnya yang mengeras di dalam seluar.


Mak long kerap berpesan supaya Nurul memakai kain basahan bila mandi di perigi. Tabiat mandi bertelanjang seperti di bilik mandi rumahnya di bandar jangan diamalkan di kampung. Mak long memang arif kebiasaan orang bandar yang suka mandi telanjang. Tapi keadaan di bandar berbeza kerana bilik air rumah orang-orang bandar tertutup rapi. Dinding di perigi mak long pun sebahagiannya telah roboh. Di kampung orang-orangnya mandi di anak-anak sungai ataupun di perigi yang terdedah. Yang perempuan berkemban bila mandi.


Keesokannya pukul tujuh pagi Nurul berjalan ke arah perigi yang terletak kira-kira tiga meter di belakang rumah mak long. Sudah menjadi kebiasaannya mandi pagi, cuma bila berada di kampung mandinya tidaklah awal-awal pagi seperti di rumah sendiri. Di rumah nya ada shower air hangat jadi dia tidak risau dinginnya air. Tapi di kampung mana ada air hangat, malah elektrik pun tidak ada. Jadi dia menunggu matahari meninggi terlebih dulu sebelum beranjak ke perigi.


Nurul memakai kain basahan seperti selalu di pesan oleh mak longnya. Kain batik sarung yang dibekalkan oleh mak long diikat ke tubuhnya secara berkemban. Dia pun mula mencedok air dari perigi dengan timba yang bertali. Bila saja air dari timba dicurahkan ke badannya, terketar-ketar Nurul kerana kesejukan air perigi itu. Tapi air sejuk itu terasa sungguh nyaman dan segar membasahi badannya. Sekali-sekala kain basahan yang dipakainya terlondeh bila dia menyiram tubuhnya. Maklumlah, bukan kebiasaannya mandi berkemban begitu.

Bila saja kain basahannya melorot ke bawah maka terlihatlah kedua-dua belah tetek Nurul yang mekar dan bulat padat. Nurul kembali membetulkan kain basahannya itu setiap kali terlondeh. Susah rasanya kerana Nurul tidak biasa memakai kain basahan bila mandi. Di rumahnya di bandar dia hanya bertelanjang bulat bila mandi. Lebih bebas.

Mungkin kerana disiram air dingin, Nurul terasa hendak kencing. Setelah meninjau-ninjau keadaan sekeliling, Nurul pun menyelak kain basahannya dan mencangkung menghadap bahagian yang tidak berdinding. Di sebalik pokok-pokok belukar yang tumbuh meliar di sekeliling telaga itu sepasang mata sedang asyik melihat Nurul mandi. Terbeliak biji matanya apabila Nurul menyelak kainnya sehingga menampakkan belahan burit Nurul yang merah. Sungguh istimewa kerana kemaluan Nurul sungguh tembam dan tidak berbulu. Seperti burit kanak-kanak tetapi bibirnya tebal dan tundunnya membukit. Bagaikan kuih apam yang dibelah dibahagian tengahnya.

Perlahan-lahan air yang berwarna emas memancut keluar dari rekahan merah tersebut. Stapa terpegun, air yang keluar dari rekahan itu bagaikan air terjun yang mengalir di celah-celah batu di bukit yang selalu dikunjunginya. Nurul selesa mengosongkan pundi-pundinya. Tanpa Nurul sedari ada sepasang mata di sebalik semak sedang memerhatikan tingkah lakunya. Nurul juga tidak menyedari ada tangan yang mula menarik zip seluar dang mengeluarkan batang yang sudah mengeras. Batang kasar kerana mengidap penyakit kulit dan gatal-gatal waktu kecil digenggam erat dan digerak maju mundur.


Lancapan itu menjadi-jadi bila Stapa melihat seketul daging merah menonjol keluar di belahan bahagian atas. Inilah yang disebut kelentit, fikir Stapa. Dia kembali teringat CD lucah yang pernah dilihatnya. Daging kecil inilah yang menjadi idaman lelaki kulit putih maupun hitam bila bersama pasangannya. Daging inilah yang disedut dan dijilat hingga pasangannya menggelupur kesedapan. Jika berpeluang Stapa juga ingin mencuba daging ajaib ini. Lidahnya bagaikan tak sabar-sabar ingin mencicipi daging merah yang menjulur keluar itu.

Sesekali kamera handphone milik Stapa menangkap gambar Nurul yang dalam keadaan mencangkung itu sebagai kenang kenangan. Memang bertuah Stapa kerana pemandangan di hadapannya sungguh memberahikan. Bukan selalu dia mendapat kesempatan melihat perempuan muda yang cantik jelita bertelanjang bulat di hadannya. Dalam mimpi pun dia tidak pernah mendapat peluang seperti ini.

Selepas kencing, Nurul menyambungkan mandinya. Seronok rasanya dapat mandi air perigi yang sejuk sambil mendengar bunyi unggas. Dari jauh Nurul nampak pak long dan mak long berjalan ke dusun mereka yang terletak agak jauh dari rumah di pinggir bukit. Kabus memutih seperti kapas menghiasi puncak bukit bagaikan salji. Sungguh indah pemandangan di desa kediaman bapa dan ibu saudara Nurul.


Melihatkan pak long dan mak long sudah jauh beredar meninggalkannya, Nurul pun menanggalkan kain basahannya. Tak puas rasanya mandi memakai kain. Nurul telanjang bulat, lebih mudah dan selesa, hatinya berbisik. Bukan ada yang tengok kerana di kampung rumah antara satu dengan yang lainnya berjauhan. Bukan seperti di bandar yang dinding rumahpun terpaksa berkongsi.


Selepas membuka kain basahannya Nurul sekarang tidak lagi dilindungi walau sehelai benang. Segala lekuk dan lurah, segala bukit dan busut sungguh jelas kelihatan. Nurul mengagumi dirinya sendiri. Dia bersyukur kerana dianugerah jasad yang amat sempurna. Dia yakin seyakinnya setiap lelaki yang melihatnya pasti terpukau. Setiap lelaki pasti berharap untuk memilikinya. Nurul tersenyum penuh bangga.

Sejak dari tadi Stapa memang terpegun dengan wanita kota di hadapannya itu. Sejak tadi dia terpukau dengan kecantikan bidadari yang sedang telanjang bulat di hadapan matanya itu. Stapa makin laju menggerakkan tangannya di batang pelirnya yang mengembang dan mengeras. Handphonenya juga beraksi makin galak. Satu persatu gambar bogel Nurul dirakam. Dari depan, dari sisi dari belakang semuanya dirakam bila Nurul memusingkan badannya ke kiri dan ke kanan sambil menyirami badannya.

Nurul senang hati, di sabun dan digosok teteknya hingga bergoyang-goyang. Sesekali tangannya menyelinap ke celah kelangkangnya untuk membersihkan kemaluannya. Digosok berkali dan sekali sekala jari-jari runcingnya menyentuh kelentitnya. Terasa geli dan sedap. Diusap-usap lagi dan sedapnya bertambah-tambah. Bagaikan hendak terjojol biji mata Stapa bila Nurul bermain-main dengan daging kecil warna merah itu. Dari kawan-kawannya dia tahu itulah punat nikmat bagi wanita. Tersentuh saja punat itu perempuan akan mengerang kenikmatan.


Panorama yang memberahikan itu membuatkan batang pelir Stapa berdenyut-denyut. Lurah merekah merah itu bagaikan melambai-lambai kepada batang balak yang sedang mencanak keras itu. Biar apa sekali pun batang keras itu perlu merasa nikmat dari celahan merah itu. Gadis kota yang cantik ini benar-benar menggoda perasaan lelaki kampung yang sedang mengintip itu. Dia rela rekahan merah itu menyepit batang kerasnya. Makin kuat sepitannya makin disukai.

Bagaikan didorong-dorong dan diarik-tarik maka Stapa memberanikan diri berjalan ke arah Nurul. Nurul yang sedang asyik membelai-belai gunung kembarnya terkejut melihat Stapa, lelaki yang mencuri-curi melihatnya sewaktu di kedai Pak Akub. Sepantas kilat dia cuba menutup kemaluan dan dua tetek dengan kedua-dua tangannya. Tindakan kilat dari Nurul itu hanya sia-sia kerana gunung kembarnya lebih besar daripada tapak tangannya. Nurul cuba melangkah ke belakang menjauhi lelaki kampung yang tidak dikenali itu. Namun lelaki itu penuh helah, dia ada muslihatnya. Stapa menunjukkan gambar-gambar telanjang Nurul yang dipotret dan disimpan dalam handphonenya.

“Awak nak apa?” tanya Nurul tergagap-gagap kerana terkejut.

“Awak ikut cakap saya. Kalau tidak....” Stapa tidak menghabiskan kata-katanya.

“Kalau tidak, awak nak buat apa?” Tanya Nurul ingin tahu.

“Gambar bogel awak ini akan menjadi tatapan pak long dan semua orang kampung.” Jawab Stapa sambil tersenyum.

Nurul masih terpinga-pinga dengan ugutan lembut pemuda kampung itu. Kalaulah gambar bogelnya tersebar ke seluruh kampung, di mana akan disorokkan mukanya. Bukan saja dirinya yang malu, pak long dan maklongnya juga akan malu. Kalaulah gambar-gambarnya itu tersebar melalui internet lagilah malu. Seluruh dunia akan menatap gambar bogelnya.

Stapa mengambil kesempatan yang ada. Batang pelirnya yang mencanak sejak tadi dipamerkan kepada gadis kota yang masih telanjang itu. Melihat Nurul tidak bereaksi, Stapa mengambil peluang memegang kedua-dua tetek Nurul. Sungguh pejal dan mantap. Belum pernah dia menyentuh tetek wanita seperti ini. Kulitnya yang bersih dan putih mulus sungguh lembut dan daging teteknya sungguh kenyal. Memang enak jika diramas-ramas.

Selaku bujang terlajak kampung, dalam usia melebihi 30 barulah kini dia berhadapan dengan wanita bogel. Wanita bergaya dan cantik ini bernar-benar berada di hadapannya. Bukan mimpi tapi realiti. Stapa tidak dapat menahan gelora hatinya lantas menyuruh Nurul duduk di tepi perigi. Stapa memegang, meramas, menjilat dan menghisap tetek Nurul bergilir-gilir sehingga merah puting Nurul. Nurul yang masih kebingungan dan berfikir mengenai gambar bogelnya mendiamkan diri. Dia membiarkan saja bujang terlajak kampung itu menguli buah dadanya.

Melihat Nurul tidak membantah, Stapa makin ganas melayan gunung kembar itu. Dicium, digigit, diramas dan pelbagai lagi dilakukan bagi memuaskan nafsunya. Nurul yang masih telanjang merasa terangsang dengan perbuatan Stapa. Jemari Stapa yang kasar mula merayap ke biji kelentit Nurul yang terngaga kerana keadaan duduk Nurul yang agak terkangkang. Jari di kelentit, mulut di tetek. Segala-galanya dilakukan serentak. Nafas Stapa mula tidak teratur iramanya, nafas Nurul makin tak menentu. Gerakan jari di kelentit dan kuluman hangat di puting tetek amat merangsang nafsu Nurul. Muka hodoh Stapa yang sedang menyoyot teteknya sudah tidak dihiraukan lagi.

Ghairahnya menggelegak, nafsunya menyala. Nurul lantas menggenggam batang pelir Stapa yang gemuk dan sederhana besar. Kepalanya yang berbentuk topi keledar itu sungguh besar dan garang. Takuk kepalanya kelihatan jelas memisahkan bahagian kepala dan batang. Amat berbeza dengan batang kawan lelakinya keturunan cina yang sama tempat kerja. Batang kawan lelakinya yang agak pucat itu berkepala kecil. Malah masih ada kulit kulup yang masih menutupnya. Sungguh berbeza dengan batang budak kampung ini.

Diperhatikan lagi, kulit batang pelir itu agak kasar dan berduri. Bintik-bintik macam ruam menghiasi batang yang sedang mengacung keras. Pada awalnya Nurul agak ragu-ragu melihat batang kasar dan berduri macam kertas pasir itu. Tapi kerana ghairahnya sudah bangkit maka batang coklat tua agak kasar itu kemudiannya diramas dan dipicit-picit. Batang panas itu terasa hangat dan berdenyut-denyut dalam genggamannya. Keras-keras kenyal daging hangat itu. Dilancap-lancap lembut tongkat sakti lelaki kampung yang sedang melayan teteknya. Nurul sudah mula lupa diri.

Stapa makin terangsang. Dia menukar haluannya lalu mengangkangkan Nurul lebih lebar. Spontan dia menyembamkan mukanya ke lurah burit Nurul. Sejak berjinak-jinak dengan CD lucah, Stapa memang teringin mencium burit wanita. Sekarang peluang itu di depan mata. Tanpa lengah dicium dan dihidu kemaluan wanita bandar yang bergetah itu. Aromanya sungguh segar kerana baru saja dicuci bersih. Dihirup dalam-dalam bau segar itu. Sekarang baru Stapa mengerti kenapa lelaki yang dilihat dalam video suka mencium burit pasangan masing-masing. Aromanya benar-benar merangsang perasaan ghairahnya. Nafsunya makin membakar dirinya.


Daging kecil warna merah berkilat di bagian atas dijilat dan dikulum. Dihisap-hisap dengan amat geram. Peluang pertama bagi lelaki kampung menikmati kelentit wanita yang cantik bagaikan puteri. Selama ini kelentit merah hanya dilihat dalam video tapi sekarang sedang dicicipinya. Daging kecil ini dirasai amat tegang. Keras dan sedikit menonjol. Dijilat dan dikulum penuh nafsu. Stapa bagaikan dirasuk, kelentit Nurul digomol penuh ghairah. Paha Nurul bergetar dan badannya tersentap-sentap bagaikan terkena kejutan elektrik. Mulut Nurul mulai mengeluarkan suara rengekan dan erangan.

Stapa amat terangsang dengan tindakannya sendiri. Suara erangan Nurul menambahkan lagi nafsu birahinya. Getaran-getaran paha gebu di hadapannya makin pantas. Ada lendiran hangat mula meleleh keluar dari rekahan bibir burit. Aroma burit Nurul bertambah keras. Stapa menadah hidung kembangnya menikmati aroma tersebut. Aroma yang sungguh segar dan merangsang setiap hujung saraf di lubang hidung Stapa.


Cairan hangat dan licin yang makin banyak mengalir keluar dari belahan bibir merah dijilat oleh Stapa. Dihirup dan ditelan penuh nikmat. Cairan hangat sedikit payau itu disedut. Lidah kasarnya menari-nari di celah bibir yang lembut. Sekali sekala lidah runcingnya dijolok masuk ke lubang kecil di tengah-tengah rekahan. Nurul mengerang makin kuat dan lelehan hangat itu makin deras keluar. Stapa tidak mensia-siakan cairan yang keluar itu. Disedut hingga kering dan ditelan penuh selesa.

Badan Nurul menggigil, paha dan lututnya bergetar. Perasaan sedap dan nikmat menjalar ke sekujur tubuhnya. Dia mengerang kuat dan cairan panas memancar keluar dari rongga buritnya. Beberapa saat kemudian Nurul terkapar lesu. Dia mencapai klimaks pertamanya dan mengalami orgasme yang amat nikmat. Selama ini dia tidak pernah mengalami orgasme hanya dengan layanan mulut. Tak disangka lelaki kampung ini amat cekap.

Stapa tak mampu lagi bertahan. Kepala pelirnya bagaikan hendak pecah. Dia bangun berdiri dan menyuakan batang pelirnya yang keras terpacak ke muka Nurul. Nurul yang kembali berghairah kerana kelentitnya disedut-sedut, menangkap batang berkepala bulat warna coklat gelap itu dan terus menghisap dengan penuh perasaan. Dia sudah tidak kisah batang kasar macam kertas pasir itu. Kepala, batang dan buah zakar Stapa menjadi habuan mulut comelnya. Digigit dan disedut bagaikan seorang pro. Nurul memang pakar menghisap batang pelir. Batang kulup kawan lelakinya yang tak bersunat itupun lahap dihisapnya. Berdenyut-enyut butuh Stapa diperlakukan sebegitu rupa. Sambil mengulum batang Stapa, tangannya juga melancapkan batang keras yang gemuk itu.

Lelaki kampung itu amat teruja dengan tindakan perempuan kota yang cantik manis itu. Dia tidak menyangka batang pelirnya yang kasar berduri itu sanggup dihisap oleh perempuan cantik ini. Waktu zaman kanak-kanaknya dia selalu diperli dan diusik kerana batangnya yang kasar itu. Kawan-kawannya selalu mengatakan bahawa tiada perempuan yang suka dengan batang hodohnya itu. Tapi sekarang wanita cantik dari bandar sedang menyonyot dan mengulum batang pelirnya yang dikatakan hodoh itu. Batang berduri yang selalu diejek oleh teman-temannya disedut dengan penuh lahap oleh bidadari di hadapannya.


Stapa juga tidak tinggal diam. Sambil Nurul menghisap batangnya Stapa menggosok-gosok dan menggentel kelentit Nurul dari belakang. Nurul menonggengkan bontotnya supaya nikmat usapan itu berganda-ganda. Berdecap-decap mulut Nurul mengisap batang lelaki kampung. Stapa meringis menahan kesedapan. Dia amat tidak menyangka wanita cantik dari bandar sudi mengisap batangnya yang selama ini hanya digunakan untuk kencing saja. Stapa dapat melihat bibir bersari warna merah melingkari batangnya yang gelap itu. Bertambah-tambah nafsunya melihat batang pelirnya keluar masuk mulut mungil.

Stapa sudah tidak tahan lagi. Kalau diteruskan pasti maninya akan terpancut dalam mulut yang indah itu. Dia tidak mahu ini berlaku. Dia ingin merasai burit cantik milik wanita bandar ini. Mungkin kesempatan seperti ini tidak berulang lagi. Biarlah terunanya tergadai hari ini. Dia tidak akan rugi apa-apa. Malah untung yang dia perolehi. Peluang menikmati wanita cantik yang sedang berghairah mengisap batang pelirnya tak seharusnya dipersia-siakan.

Walaupun tengah sedap dihisap, Stapa terpaksa menarik keluar batangnya dari mulut hangat. Dia ingin juga merasai burit hangat. Peluang yang tak mungkin lagi berulang sepanjang hayatnya. Posisi kedua makhluk ini berubah. Nurul ditolak lembut hingga berkeadaan menungging. Tangan Nurul bertahan di pinggir telaga. Tanpa lengah Stapa bergerak ke belakang Nurul dan merapatkan kepala pelirnya ke rekahan merah di celah paha gebu. Perlahan-lahan Stapa menekan-nekan kepala butuhnya di biji kelentit Nurul. Kemudian digerakkan kepala bulat itu di sepanjang alur yang basah dan licin. Kemudian dinaikkan semula agar kepala yang sudah licin itu menyondol daging kecil yang sudah lama mengeras. Nurul mula merengek dan mengerang kesedapan.

Bagaikan lelaki yang penuh pengalaman Stapa memainkan kepala pelirnya di tebing lubang burit Nurul. Sekali sekala batangnya yang kasar itu menyentuh ujung kelentit Nurul. Batang berduri lelaki kampung menyagat kelentit yang amat sensitif itu. Nurul terasa sedap dan geli. Tersentap-sentap badanya bila kelentitnya diusik. Air syahwat Nurul yang telah lama bertakung sedikit demi sedikit meleleh keluar dari muara kemaluan Nurul. Serentak dengan keluarnya air hangat ini maka lubang burit Nurul makin pantas mengemut. Lubang buritnya terkemut-kemut seperti ingin menyedut sesuatu. Dinding buritnya terasa gatal-gatal dan minta digaru-garu.

“Masukkan, masukan.”

Bagaikan pengemis cinta Nurul menarik-narik badan Stapa supaya memasukkan batang yang sedang menyondol itu ke dalam lubang buritnya. Nurul tak sanggup menunggu lebih lama. Nafsunya yang berada di ubun-ubun perlu dipuasi segera. Batang lelaki kampung ini perlu segera menyelam dalam lubang miangnya. Gatal-gatal yang dirasainya perlu digaru. Rahimnya yang gersang perlu di siram. Ladangnya yang sedang menunggu perlu segera dibajak. Lubang yang sedang becak perlu disumbat.

“Cepat, tak tahan ni.” Nurul makin merengek.

Stapa mula menekankan kepala batangnya. Kerana tak berpengalaman sukar juga dia mencari lubang yang perlu disumbat. Disondol sana, disondol sini hingga ditemui lubang kecil di tengah-tengah lurah. Ditekan lagi hingga bahagian kepala mula terbenam. Nurul mengemut kuat tanda mengalu-alukan kemasukan batang lelaki kampung yang masih teruna. Stapa merasai lubang Nurul sungguh ketat. Hampir terpancut maninya disepit oleh daging lembut tapi sempit.

Stapa menekan lagi batang pelirnya yang mengembang keras. Belum pernah dirasakan batang butuhnya setegang ini. Disorong dan ditarik perlahan-lahan hingga akhirnya seluruh zakarnya terbenam. Nurul menjerit kenikmatan. Batang gemuk lelaki kampung ini memenuhi seluruh rogga buritnya. Terasa titik nikmatnya yang dikenali sebagai G-spot diusap-usap. Nurul menggelepar kesedapan. Bergegar punggung padatnya kerasa nikmat. Lubang buritnya makin laju mengemut dan dinding buritnya makin pantas membelai dan mengurut batang keras Stapa.

Stapa menggerakan batang balaknya maju mundur. Lubang Nurul terasa licin tapi ketat. Kemutan-kemutan Nurul sungguh sedap. Kesedapan yang belum pernah dirasainya dalam usianya melewati tiga puluhan. Sungguhpun dia sering melancap tapi kesedapannya tidak setanding dengan kesedapan lubang perempuan. Betullah seperti kata kawan-kawannya yang sudah kahwin bahawa inilah yang disebut syurga dunia. Stapa merasai bagaikan sedang berada di syurga. Nurul telah memberi kenikmatan syurgawi kepadanya.


Suara-suara berirama ghairah mula bersahutan. Erangan dan rengekan berganti-ganti. Sorong tarik berterusan. Kemutan demi kemutan membelai batang keras. Wanita bandar dan lelaki kampung saling bekerjasama memberi kenikmatan. Nurul menerima nikmat dari Stapa. Stapa menerima kesedapan dari lubang hangat. Di udara dingin peluh mula memanik di kulit tubuh. Urat saraf membawa nikmat. Otot-otot mengejang, kelenjar bekerja keras dan hormon endorphin mengalir ke urat-urat pasangan itu. Nurul dan Stapa saling menikmati syurga dunia.

Berpeluh-peluh Stapa menghayun batang kerasnya. Didayung dengan irama laju dan pelan berganti-ganti. Batangnya terasa berdenyut-denyut. Lubang Nurul pula mengemut dan meramas batang yang terus bergerak keluar masuk itu. Batang gemuk itu menyumbat penuh lubang Nurul yang sempit. Walaupun tidak menyentuh batu meriyannya tapi Nurul dapat merasai kenikmatannya. Batang gemuk itu sentiasa mengelus titik nikmatnya. G-spotnya digaru-garu oleh batang coklat tua itu. Punggungnya diayak-ayak kiri kanan bila Stapa menekan depan belakang. Nurul mengerang kenikmatan.

Bagaikan wira yang sedang menunggang kuda, Stapa terus menghayun dan mendayung. Nurul bertambah kuat merengek. Air nikmatnya makin banyak keluar membasahi lurah dan pahanya. Berbuih-buih bila Stapa menghantak dengan kuat. Makin kuat hantakan makin sedap dirasai Nurul. Batang kasar dan berduri itu benar-benar menggaru dinding buritnya. Tak pernah dia merasai begini sedap. Batang kasar dan berduri ini benar-benar memberi kepuasan tak terhingga kepadanya. Batang kawan lelakinya yang berkepala kecil dan tak bersunat itu tidak setanding dengan batang lelaki kampung ini. Dia tidak pernah merasa sesedap dan senikmat ini. Badannya mula mengejang, nikmatnya makin terasa dan Nurul yakin hanya beberapa minit lagi dia akan mencapai orgasme penuh nikmat.

Stapa yang baru pertama kali merasai burit perempuan juga tidak dapat bertahan lagi. Kepala pelirnya terasa sungguh geli. Kesedapan yang tidak pernah dirasainya malah tidakpun pernah membayangkannya. Air nikmatnya sudah mula berkumpul dipangkal pelirnya. Bila-bila masa air itu akan memancut keluar. Dia cuba menahan nafas menahan pancutan. Petua ini pernah diperolehi dari rakan-rakannya yang sudah berkahwin. Dia hanya merendam saja batangnya. Gerakan maju mundur dihentikan buat sementara. Tapi kemutan dan ramasan burit Nurul terhadap batangnya sungguh sedap. Dia tak mampu lagi bertahan.

Kedua pasangan ini sedang menikmati kelazatan bersanggama yang dahsyat. Kedua-kedua badan yang melekap erat ini mula bergetar dan menggigil. Dan secara serentak kedua makhluk ini mengeluh kuat bagaikan lembu disembelih. Dengan sekali hentakan yang amat padu Stapa menekan batang pelirnya hingga ke pangkal. Nurul dapat merasai pangkal rahimnya bagai disondol-sondol. Hanya nikmat saja yang diperolehi masa ini. Nikmat yang belum pernah dirasai sungguhpun ini bukanlah hubungan kelamin yang pertama baginya.

Badan Stapa terkejang-kejang. Berdas-das dia menembakkan maninya menerpa pangkal rahim wanita bandar. Kesedapannya tak dapat diucap dengan kata-kata. Inilah saatnya memasuki syurga dunia, kata kawannya. Kenikmatan yang sama sekali tidak sama dengan lancapan tangan. Ditahan dan dirangkul badan Nurul. Ditunggu hingga seluruh maninya terperah hingga ke titik yang terakhir. Lututnya terasa lemah, bagaikan hendak rebah ketika itu juga.

Nurul dapat merasai cairan panas menerpa pangkal rahimnya. Pancutannya sungguh kuat dan padu. Amat berbeza dengan ejakulasi kawan lelakinya. Terasa seperti meleleh saja di dalam rongga buritnya. Nurul juga memancarkan air nikmatnya ketika itu juga. Kepala pelir Stapa bagaikan disiram dengan air hangat. Air putih pekat mulai mengalir keluar membasahi paha kedua pasangan itu. Lututnya juga lemah dan tak mampu lagi menahan badannya.

Kedua pasangan itu akhirnya rebah di pinggir perigi. Kedua-duanya terkulai lemah menikmati kelazatan yang tiada tandingannya. Hanya beberap ketika kemudan Stapa menyedari dirinya dan dengan longlai bangun dan menyelinap ke semak-semak meninggalkan Nurul terjelepuk di perigi. Stapa tidak mahu perbuatan mereka diketahui orang dan menjadi buah mulut orang-orang kampung. Dan yang paling dia takut batang lehernya mungkin dipenggal oleh pak long yang panas baran orangnya.

Nurul masih terduduk dalam keadaan bogel. Dia benar-benar menikmati orgasmenya. Dia tak peduli lelaki kampung sudah hilang meninggalkannya. Yang dia peduli adalah kesedapan yang teramat sangat yang diperolehi dari lelaki kampung yang tidak dikenalinya yang mempunyai batang kasar dan berduri. Batang hodoh itu benar-benar memberi kepuasan kepadanya...


----------

***Cadangan penambahbaikan: teratai1108@gmail.com

...
Hardcore Kakis

teratai's Avatar

Join Date: Jan 2007
Posts: 267
Reply With Quote Multi-Quote This MessageReport Post
Old 17-08-2010, 02:54 PM #96
Pemuda afrika

PEMUDA AFRIKA

Oleh: Teratai

Peperiksaan akhir semester tinggal dua minggu lagi. Prestasiku harus dijaga. Aku tak mahu kalah dengan kawan-kawanku, terutama mahasiswa lelaki. Aku akan rasa tercabar jika mahasiswa lelaki lebih baik dariku. Justeru itu aku menghabiskan masaku dengan membuat semakan dan rujukan di perpustakaan.

“Reen, saya ada satu permintaan.”

Kata-kata Bob itu mengejutkan aku yang sedang mengalamun. Pagi itu aku sedang mengulangkaji di perpustakaan universiti. Bob, mahasiswa dari Afrika bersamaku dan duduk di kerusi berhadapan denganku.

“Permintaan apa Bob, mengenai ujian kita akhir minggu ini ke?” Aku bertanya ingin tahu.

“Tidak. Sama sekali tidak mengenai pelajaran.” Bob bersuara perlahan.

“Kalau mengenai duit aku tidak boleh membantu.” Kataku perlahan agar tidak mengganggu pelajar lain yang sedang mengulangkaji.

“Ini sama sekali tidak mengenai kewangan.”

“Jadi, apanya?”

“Kawan saya, dia nak rasa perempuan melayu.”

Aku terkejut dengan permintaan Bob. Fikiranku kembali ingat ketika aku bersama dengan Bob. Telah banyak kali aku berasmara dengannya. Aku sentiasa puas. Layanan Bob, lelaki dari Afrika itu memang handal. Batangnya yang besar dan panjang memberiku sejuta nikmat.

Kata Bob, kawannya ini sudah biasa dengan wanita cina dan india tetapi belum pernah dengan wanita melayu. Kerana itu aku diminta untuk membantu kawannya itu. Kata Bob lagi, kawan-kawannya dari Afrika amat menyukai wanita melayu kerana wanita melayu pandai melayan dan kemutan wanita melayu teramat sedap. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum.

Aku berfikir dan menyetujui permintaan Bob. Apa ruginya mencuba kawan Bob ini. Setakat ini aku amat berpuas hati dengan permainan awang hitam. Lelaki melayu memang tidak mampu menandingi kehebatan mereka. Sudahlah batangnya pendek dan kecil, permainan mereka pun hanya sekejap. Aku belum puas mereka dah terpancut.

Lelaki melayu hanya pandai membangga diri. Katanya merekalah juara di atas ranjang. Sebenarnya mereka bukanlah apa-apa. Kalau tak dibantu dengan tongkat ali burung mereka yang dibangga-bangga tu tak akan berkokok. Katanya lagi mereka mampu bertahan lama kerana bersunat tapi kenyataannya hanya beberapa minit mereka dah terpancut.

Petang itu seperti yang ditetapkan aku mengikut Bob ke apartment tempat tinggalnya. Kami disambut oleh kawannya yang dikenali sebagai Jim. Jim inilah yang ingin merasai wanita melayu.

Aku lihat perawakan Jim sungguh menarik. Orangnya tinggi lampai macam Bob juga. Dan aku yakin batangnya juga besar dan panjang macam batang Bob. Aku yakin permainan Jim juga hebat macam yang ditunjukkan oleh Bob.

Jim mengajak aku dan Bob minum minuman ringan yang disediakannya. Beberapa minit kemudian badanku terasa hangat dan ghairahku tiba-tiba saja menyala. Kemaluanku terasa berdenyut-denyut dan gatal-gatal. Aku dapat merasai seluar dalamku mula lembab. Bob meminta diri untuk mandi, tinggal aku berdua dengan Jim di ruang tamu.

Jim bergeser merapatiku di sofa. Dia merangkulku dan bibirku dilumatnya dengan lembut. Ternyata ciuman lelaki berbibir tebal nikmat sekali. Aku dapat mengulum bibirnya lebih kuat dan ketebalan bibirnya memenuhi mulutku. Sensasi nikmat yang sentiasa kuperolehi bila bersama awang hitam dari Afrika. Sedang kunikmati lidah Jim yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangan besarnya menyelusup dalam baju yang kupakai dan meramas lembut tetekku.

Ohh.., tetekku ternyata memenuhi seluruhnya dalam tangannya. Dan aku rasanya sudah tidak mamapu lagi menahan gejolak birahiku, padahal permainan baru saja bermula. Bibir Jim mulai meneroka, leherku dikecup, dijilat dan kadang-kadang digigit lembut. Sambil tangannya terus meramas-ramas tetekku. Aku hanya membiar saja bila bajuku terlucut dari badanku. Malah aku membantu bila bra dan seluruh pakaianku dilondeh satu persatu.

Tubuhnya sudah di atasku, bibirnya terus menelusur di permukaan kulitku. Dan mulai puting kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Kadang-kadang seolah seluruh tetekku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai menjamah kemaluanku yang pasti sudah basah sekali. Dibelainya buluku yang hanya sedikit. Sesekali jarinya menyentuh kelentitku. Bergetar semua rasanya tubuhku, dan jarinya mulai sengaja memainkan daging kecil itu. Dan akhirnya jari besar itu masuk ke dalam buritku. Oh, nikmatnya, bibirnya terus bergantian menjilati puting kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku.

Dalam keadaanku yang sedang menikmati ghairahku, akhirnya sampailah bibir tebal Jim ke kemaluanku. Kali ini diciumnya bulu tipis kemaluanku dan aku rasakan bibir kemaluanku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali kemaluanku dibuat mainan oleh bibir Jim. Kadang-kadang bibirnya dihisap, kemudian kelentitku, namun yang membuat aku tak tahan adalah ketika lidahnya masuk di antara kedua bibir kemaluanku sambil menghisap kelentitku. Jim benar-benar mahir memainkan kemaluanku. Hanya dalam beberapa minit aku benar-benar tak tahan.

Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan kelentitku dengan mulutnya, kuramas-ramas kepalanya yang berambut kerinting dan aku telah orgasme hanya dengan bibir dan lidah Jim. Pemuda Afrika itu dengan lahapnya menjilat dan menelan cairan lendir hangat yang keluar dari rongga farajku.

Aku kelelahan dan tenagaku tak bermaya. Jim terus mencumbu kemaluanku. Bibirnya yang basah, lurahnya yang banjir dan kelentitku yang membangkak dilayannya penuh geram. Agaknya Jim amat teruja bila berhadapan dengan kemaluan wanita melayu yang comel. Digomol dan diuli buritku hingga berahi dan nafsuku kembali bangkit dan bergelora.

Aku bangkit dan menarik Jim ke dalam bilik tidur. Aku mengarahkan Jim supaya membuka semua pakaiannya yang melekat di badannya. Hingga akhirnya kami berdua telanjang bulat. Dengan sisa-sisa tenagaku aku menolak Jim ke katil dan dia jatuh terlentang di atas katil.

Aku rapatkan mukaku ke selangkang Jim. Semerbak aroma zakar lelaki menerpa hidungku. Aroma yang selalu aku idamkan. Baunya membuat aku menjadi bernafsu. Aroma yang membuat ghairahku menggelegak. Aroma yang membuatkan cairan hangat mengalir deras melalui terowong nikmatku. Seluar dalamku mulai lembab.

Seperti juga Bob, Jim juga tidak bersunat. Jelas sekali kulit kulup masih membungkus kepala bulat. Kulit itu lebih tebal dibanding kepunyaan Bob. Kulit itu secara kemas membalut kepala yang berbentuk kudup cendawan. Aku yakin seperti juga Bob, Jim mampu memberi aku kepuasan. Batang-batang besar warna hitam ini memang cukup gagah. Teramat gagah dibandingkan batang sawo matang kepunyaan lelaki melayu.

Aku sentiasa tergoda melihat batang-batang pelir tak bersunat. Tanganku tak tahan untuk diam. Perlahan-lahan batang yang masih terkulai itu aku elus-elus. Aku angkat lembut dari rimbunan bulu-bulu hitam keriting di pangkal paha Jim. Aku ramas-ramas lembut dan terasa batang Jim mula berdenyut-denyut dan hangat. Batang hitam itu seperti hidup dan mula kembang.

Aku sendiri tak pasti mengapa aku suka batang-batang hitam. Mungkin juga kerana batang hitam sentiasa gagah dan aku tak pernah kecewa dengannya. Tiap kali aku merasainya pasti aku puas. Aku mampu berkali-kali mengalami orgasme. Kata orang multiple orgasm.

Batang Jim mula berdiri menegang, bahagian kepala berbentuk kudup cendawan itu mula keluar dari kulupnya. Seperti bunga yang tumbuh dari kuncupnya, cendawan besar itu merekah. Melihat kepala licin yang mula merekah itu membuatkan birahiku makin meninggi. Aku geram melihat kepala hitam dan licin itu berkilat dipanah cahaya lampu.

Aku rapatkan wajahku ke batang pelir Jim, aku cium batang hitam itu, kemudian menjilat, menjilat-jilat, menjilat-jilat, menjilat-jilat. Batang Jim makin menegang. Kepala cendawan makin menyerlah keluar dari kelongsongnya. Bagaikan kepala kura-kura yang sedikit demi sedikit menonjol dari kulit cengkerang.

Aku ramas-ramas batang hitam tesebut dan pantas saja balak itu makin mengembang dan membesar di dalam tanganku. Mungkin Jim dapat merasakan keenakan bila kulit tanganku yang halus membelai lembut batangnya yang berkulit kasar itu. Atau mungkin Jim terasa enak batangnya dilayan mesra oleh perempuan melayu yang diidam-idamnya. Perempuan melayu yang bertudung dan kelihatan malu-malu tapi ganas di tempat tidur.

Terangsang degan tindakanku, batang pelir Jim sekarang telah benar-benar keras. Batang hitam itu terpacak macam tiang bendera. Kepala bulat yang licin seperti tak sabar meronta-ronta ingin keluar dari kulit yang membungkusnya. Dengan bantuan tanganku aku menolak kulup ke belakang dan kepala bulat licin dengan bebasnya melepaskan dirinya. Aku cium kepala licin tersebut dan bau khas kepala pelir menyelinap ke rongga hidungku. Aku sedut lama-lama kerana aku ketagih dengan aroma pelir. Aroma kepala pelir Jim menyebabkan buritku mengemut. Terasa bibir kemaluanku kembali banjir.

Puas menghidu kepala dan batang hitam berurat itu aku mula menjulurkan lidahku ke kepala licin. Ku jilat-jilat kepala pelir dan memainkan lidahku di sekeliling kepala dan kemudian mengarah ke batang. Ku kucup batang zakar yang panjangnya 8” itu dengan rakus. Aku dengar erangan-erangan nikmat keluar dari mulut lelaki Afrika yang gagah.


Segera ku masukkan batang pelir Jim ke dalam rongga mulut ku. Ku sedut-sedut batang keras itu dengan nafsuku yang sudah membuak-buak bagai lahar gunung berapi. Sambil kepalanya aku hisap, batang hitam itu aku lancap dengan menggunakan tanganku. Sungguh nikmat batang besar itu berlegar-legar dan menyentuh kulit pipiku bahagian dalam. Tiba-tiba terasa ada lendiran masin keluar dari hujung kepala pelir Jim. Air mazi Jim aku jilat dan telan. Enak rasanya.


Jim makin kuat mengerang. Kepala pelirnya aku hisap dan jilat. Batang pelirnya aku lancap dengan laju. Jim mula mengeliat dan mengeluarkan suara-suara penuh nikmat. Jim makin terangsang bila lidah kasarku yang hangat berlegar di kepala licin dan sekitar takok kepala pelir. Aku dapat merasakan paha dan badan Jim mula mengejang. Kakinya bergetar dan terketar-ketar.

Aku makin cepat melancap dan makin kuat mengemut kepala pelirnya dengan mulutku. Aku dapat merasakan batang pelir Jim makin keras dan tiba-tiba pancutan kuat menerpa kerongkongku. Cairan sperma berlendir itu sungguh banyak. Hampir sepuluh das Jim menembakkan maninya. Cairan putih seperti telur putih itu aku telan. Terasa lemak-lemak masin sperma lelaki Afrika ini. Aku jilat hingga licin batang hitam berlendir itu.

Jim terlentang lemah di tilam. Seperti orang keletihan, Jim memejamkan matanya. Batangnya yang gagah mula terkulai. Lembik dan terlentok di paha Jim bila aku melepaskan dari hisapan. Kepala bulat secara perlahan-lahan menghilang bersembunyi ke dalam kulup.

Aku merenung puas. Aku telah mencapai orgasme dan begitu juga Jim. Kepuasan melalui oral sex. Aku menunggu pusingan berikutnya. Kepuasan melalui pertarungan batang dan lubang. Aku akan menunggunya dan aku rasa masanya tidaklah lama...

----------
***Cadangan penambahbaikan: teratai1108@gmail.com
...

Hardcore Kakis

teratai's Avatar

Join Date: Jan 2007
Posts: 267
Reply With Quote Multi-Quote This MessageReport Post
Old 23-08-2010, 12:32 PM #97
Berkhatan dara sunti

BERKHATAN DARA SUNTI

Oleh: Teratai

Mak Esah dan keluarga cukup gembira kerana didatangi rombongan merisik anak daranya. Rombongan itu ingin menyunting sekuntum bunga yang sedang mekar di taman Mak Esah. Mazlina anak daranya yang berusia 19 tahun itu memang wajar berumah tangga. Justeru itu kedatangan rombongan merisik amat menggembirakan Mak Esah.

Bagi penduduk di kampung terpencil yang jauh di pedalaman, usia 19 tahun dianggap sudah terlajak untuk berumah tangga. Bagi masyarakat di situ gadis-gadis biasanya sudah bernikah pada usia 15 tahun. Kerana itu Mazlina atau biasa dipanggil Ina sudah dianggap anak dara tua.

Petang itu Mak Esah dan suaminya berkunjung ke rumah Lebai Jusuh, imam kampung itu bagi mendapat pandangan dan nasihat. Lebai Jusuh, lelaki separuh baya di kampung itu sentiasa ditanya pendapatnya dalam segala hal kerana dianggap orang terpelajar dan berilmu tinggi, terutama ilmu agama. Lebai Jusuh yang mengajar di surau kampung itu sering mengeluarkan fatwa untuk pengikutnya. Fatwanya sentiasa dipatuhi walalupun kadang-kadang mengelirukan. Penduduk kampung tidak berani menyangkal kerana mereka cetek dalam hal ilmu agama.

Lebai Jusuh menjadi satu-satunya rujukan orang kampung kerana kampung mereka agak jauh di pedalaman dan mereka tidak banyak berinteraksi dengan orang luar, apalagi tokoh agama dari tempat lain. Apa-apa ajaran imam ini akan dipatuhi tanpa persoalan kerana orang-orang kampung percaya sepenuhnya pada imam tersebut.

Lebai Jusuh selaku imam yang sering dirujuk dan diminta pendapat memang kenal setiap orang kampung dan tahu seluruh sejarah hidup setiap orang yang lebih muda darinya seperti bila lahir, bila cukur jambul, bila berkhatan, khatam Quran atau tidak, bertunang, bernikah dan sebagainya kerana semua persoalan itu dirujuk kepadanya terlebih dahulu. Malah, masalah yang sulit-sulit seperti hal-hal dalam kelambu laki bini pun dirujuk kepada imam itu juga. Maka, tahulah imam itu siapa yang mati pucuk, siapa yang lemah syahwat dan siapa yang main kayu tiga. Pendek kata, Pak Imam itu amat dihormati oleh orang kampung.

Apabila keluarga Mak Esah merujukkan cadangan pernikahan anaknya Ina kepada Pak Imam, beliau dengan senang hati memberikan tunjuk ajar dan sudi memberi kuliah kepada calon pengantin tentang tanggungjawab suami isteri, kiranya seperti Kursus Pra-Perkahwinanlah yang dianjurkan di bandar-bandar.

“Saya ingin bertanya satu soalan kepada Pak Imam. Perkara ni amat sulit nak diluahkan,” Mak Esah tergagap-gagap bersuara.

“Cakap sajalah, kalau boleh ditolong akan saya tolong,” jawab Pak Imam penuh wibawa.

“Berat pula nak dicakapkan, Pak Imam.” Mak Esah masih tidak mampu meluahkannya.

“Cakap sajalah, semua masalah boleh diselesaikan.” Pak Imam masih menunjukkan kewibawaannya sebagai pakar rujuk.

“Ini hal anak saya, Ina.” Mak Esah belum mampu meluahkannya.

“Tak apa, cakap sajalah.” Pak Imam telah mula hilang sabar.

“Anak saya waktu kecil dulu sering sakit-sakitan, kerana itu dia tidak disunatkan.” Mak Esah meluahkan kemuskilannya.

“Ohh! begitu ceritanya. Tapi bersunat ni wajib mengikut agama kita.” Jawab Pak Imam sedikit terperanjat.

“Sudah besar begini perlu disunatkan juga ke Pak Imam?” Tanya Mak Esah.

“Wajib! Jika tidak, nanti persetubuhan mereka jadi haram dan zina dan anak hasil rahim Ina pun dikira luar nikah dan dibin atau dibintikan Abdullah. Suaminya tidak layak menjadi wali kepada anak perempuannya nanti.” Jawab imam penuh wibawa.

Keluarga Mak Esah pun tidak banyak soal lagi. Entah di mana Pak Imam itu mendapat ajaran tersebut, Mak Esah tidak menyoal langsung sebab mereka lebih-lebih lagi jahil hal ehwal agama dan bergantung sepenuhnya kepada Pak Imam. Mak Esah dan kebanyakan penduduk kampung buta huruf dan cetek ilmu agama. Pak Imam sendiri merantau dan berguru dengan pelbagai tok guru yang dikatakan hebat-hebat. Maka orang kampung pun menaruh sepenuh kepercayaan kepada ajaran Pak Imam ini.

Mak Esah meminta nasihat Pak Imam bagaimana hendak membuat persiapan bagi menyunatkan Ina yang sudah berusia 19 tahun itu. Mak Esah dan keluarga tak mahu heboh-heboh perkara ini. Mereka mengangap perkara ini adalah rahsia dan hanya Pak Imam saja yang mengetahuinya. Mereka mengharapkan Pak Imam sajalah yang menyunatkan Ina.

Pak Imam menyuruh menyediakan beberapa jenis kain dan rempah ratus. Pak Imam memanggil keluarga Mak Esah datang ke rumahnya untuk berbincang lebih lanjut upacara menyunatkan gadis itu nanti. Upacara ini akan dilakukan pada Hari Khamis petang Jumaat akan datang.

Seperti dijanjikan, Mak Esah dan Ina datang ke rumah Pak Imam. Supaya tidak diganggu maka Mak Esah disuruh pulang terlebih dulu. Ina akan pulang sendiri selepas selesai pemeriksaan kerana rumah Mah Esah tidaklah jauh sangat.

“Aku perlu memeriksa kemaluan Ina untuk membuat persiapan aku sendiri.” Pak imam memulakan mukadimahnya.

Tanpa bantahan maka Ina pun disuruh masuk ke bilik rawatan di rumah Pak Imam itu. Tanpa prasangka dan curiga Ina patuh kepada arahan. Dia tidak mahu anak-anaknya nanti akan digelar anak haram seperti kata Pak imam.

“Ha, Ina. Baring kat tilam tu, tanggalkan semua pakaian kau dan selimut dengan kain batik tu. Aku kena periksa tubuh badan kau dan berikau ubat-ubatan yang sesuai pada kau. Kau baring dulu, aku nak bersiap ni.”

Ina pun patuh dan menanggalkan semua pakaiannya dan berselimut kain batik yang hanya menutup tubuhnya dari dada hingga ke peha. Dia berasa tidak selesa dan sedikit malu kerana keadaannya itu. Dia juga berasa sedikit takut kerana ibunya telah meninggalkannya di rumah Pak Imam untuk berubat sebelum bersunat.

Ina tertanya-tanya apa agaknya yang akan dilakukan oleh Pak Imam untuk memeriksa tubuhnya. Setelah beberapa minit, Pak Imam pun masuk ke bilik rawatan. Dengan keyakinan penuh dan berwibawa Pak Imam menghampiri Ina.

“Dah buka semua baju kau?” Pak imam menyoal.

Ina mengangguk sahaja. Pak Imam tidak banyak cakap dan duduk di sisi Ina. Dia menyusun segala peralatannya di tepi tilam – sebuah mangkuk berkaki, sebuah besen berisi air, gayung kecil dan beberapa peralatan lain. Pak Imam mula membacakan beberapa potong ayat sambil tangannya menyingkap bahagian atas kain batik Ina dan mendedahkan bahagian atas buah dada Ina tetapi tidak menampakkan putingnya. Ina berdoa agar Pak Imam tidak akan membuka kainnya dan melihat putingnya.

Pak Imam menggosokkan sedikit air dari besen pada pangkal dada Ina dan terus membaca ayat. Tubuh Ina tiba-tiba berasa lain macam akibat sentuhan tangan Pak Imam itu. Pak Imam terus menarik kain batik itu sehingga ke pinggang Ina. Dia mengambil sedikit minyak dari botol kecil dan menitikkan ke atas kedua-dua puting Ina yang kemerahan. Jari-jari Pak Imam meratakan minyak pada puting Ina. Dia terus mengurut puting-puting Ina sehingga terkeluar erangan halus dari mulut Ina. Ina sendiri belum pernah mengalami perasaan aneh ini.

Setelah itu, Pak Imam menutup kain batik itu semula dan beralih ke bahagian bawah tubuh Ina. Dia menarik kain batik itu ke atas sehingga paras pinggang Ina dan mendedahkan bahagian kemaluan Ina yang berbulu lebat itu.

“Hish, kamu tak pernah bercukur ke Ina?”

Ina berasa amat malu dan menggeleng sahaja. Sememangnya ia tidak pernah bercukur bulu ari-arinya itu sejak ia mula tumbuh waktu umurnya belasan tahan. Ina sendiri pun tidak pernah terfikir bahawa bulu kemaluannya itu mesti dipangkas.

“Kalau macam ni nanti masa bersunat aku kena buat upacara cukur macam cukur jambul budak.” Pak imam menerangkan.

”Tapi cukur jambul budak ramai yang datang cukurkan.” Ina bersuara perlahan dan ragu-ragu.

“Iyalah.” Pak imam menjawab sepatah.

“Pak Imam saja yang cukurkan tak boleh ke?” Ina bertanya dengan nada risau.

”Kerjaku dah jadi bertambah ni, pertama kena menyunat lepas tu kena bercukur pula. Kerja ni bukan boleh dibuat sekali gus.” Pak Imam menerangkan prosedurnya.

“Kangkang kaki kau. Aku nak periksa kelentit kau. Ini yang paling penting sebab aku nak menyunatkan bahagian ni.”

Ina pun menurut arahan. Pak Imam menghampirkan mukanya kepada kemaluan Ina yang berbulu lebat itu dan membacakan ayat lagi. Dia mengambil minyak dan menyapukan pada kelentit Ina. Dipicit-picitnya kelentit Ina sehingga kelentit Ina mengembang dan kemerahan. Air likat mula keluar dari lubang kemaluan Ina yang mula terbuka. Ina berasa begitu ghairah walaupun dia malu. Dia menahan rasa lazat yang memuncak pada kelentit dan kedua-dua putingnya. Sekali lagi dia mengalami perasaan aneh disekujur tubuhnya.

Pak imam sebagai lelaki normal terbuka nafsunya bila melihat kemaluan anak dara di hadapannya itu. Tundun dara yang tembam, bulu-bulu lebat hitam yang menghiasinya, kelentit yang menegang, bibir-bibir merah yang ternganga, erangan penuh nafsu yang keluar dari bibir si dara dan aroma kemaluan yang menerpa lubang hidungnya membuat Pak Imam tak dapat menahan gelora nafsunya. Bau burit anak dara benar-benar membangkitkan perasaan birahinya. Tangannya bergetar bila kelentit Ina diurut-urut dan dipicit-picit. Basah dan terasa licin pada jari-jarinya bila dibasahi oleh air likat yang mula meleleh keluar dari rongga kemaluan Ina.

Pak Imam meneruskan urutan pada kelentit si dara yang makin membesar dan membengkak. Perasaan sedap makin menjadi-jadi dan Ina dapat merasai air hangat makin banyak keluar dari rongga kemaluannya. Terasa gatal-gatal pada sepasang bibir kemaluannya yang sedikit demi sedikit membengkak. Lubang kemaluannya terasa berdenyut-denyut dan terkemut-kemut seperti ingin menyedut.

Dengan mata yang kuyu Ina perasan bahawa kain pelikat yang dipakai Pak Imam basah sedikit dan ada semacam kayu yang menongkat kain itu dari dalam.

Tindakan Pak Imam yang seterusnya memang memeranjatkan Ina. Pak Imam menyelak kain pelikatnya dan ternampaklah oleh Ina kemaluan Pak Imam yang besar dan terpacak keras. Ina tidak pernah melihat kemaluan orang lelaki dan kini kelentitnya berasa pelik sekali lagi dan berasa sedap. Pak Imam mengambil bekas dan menadah di bawah kemaluannya. Seterusnya dia mengambil gayung dan mencedok air dari besen yang berisi beberapa jenis bunga lalu disiramkan pada kepala zakarnya yang memang sedia basah itu. Bibir Pak Imam terkumat-kamit seperti membaca mantra dan doa. Timbul perasaan berahi pada diri Ina bila melihat kemaluan Pak Imam yang tegang itu. Tiba-tiba kemaluannya terasa gatal-gatal.

“Apa yang Pak Imam buat tu?” Tanya Ina dengan suara termengah-mengah.

“Aku sedang mengasah supaya lebih tajam. Kelentit kamu tu dah liat.”

Ina hanya mengangguk saja. Mungkin benar cakap Pak Imam itu sebab dia sudah dewasa, jadi kelentitnya pasti sudah liat. Dia biasa makan gulai rebung yang lembut tapi rebung itu akan keras menjadi buluh bila sudah tua.

“Budak kecil disunatkan dengan pisau atau sembilu tapi kerana kamu telah dewasa maka kamu perlu disunat menggunakan ini,” Pak imam menunjukkan kemaluannya kepada Ina.

“Kamu faham maksud aku?”

“Faham, Pak Imam.”

Kelihatan Pak Imam menggeletar sedikit. Ina diam dan terpaku pandangannya pada kemaluan Pak Imam. Kepala bulat bertakuk itu menarik perhatian Ina. Batang keras berwarna coklat tua itu memukau perasaannya. Perasaan aneh dan sedap menjalar ke seluruh tubuhnya. Pak Imam terus menyiram zakarnya dan mengambil minyak dari botol lalu disapukan pada kedua-dua telurnya. Dia tidak menyentuh zakarnya tetapi hanya mengurut-urut buah zakarnya. Beberapa minit dia mengurut sambil diperhatikan oleh Ina, Ina nampak batang zakar Pak Imam semakin merah dan besar dan lubang kencing Pak Imam semakin ternganga dan terbuka. Ada air jernih yang keluar dari lubang di hujung kepala bulat. Bagaikan embun pagi di hujung daun rumput di halaman rumah kelihatannya. Ina terpukau dengan pemandangan di hadapannya.

“Kamu dah sedia, Ina?”

“Sudah, Pak Imam.”

Ina tidak perlu berfikir panjang. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah menghadiri upacara berkhatan baik untuk kanak-kanak maupun orang dewasa. Seingat dia belum pernah ada majlis berkhatan wanita dewasa di kampungnya. Kalau beginilah cara bersunat untuk perempuan dewasa maka dia tak perlu membantah. Dia lebih bersedia disunat dengan batang tumpul kepunyaan Pak Imam daripada kelentitnya dihiris dengan sembilu atau pisau tajam. Boleh meraung dia kerana sakit kelentitnya disiat-siat.

“Sekarang kamu baring dan ambil bantal tu dan lapik bawah pinggangmu supaya lebih selesa. Sekarang buka pahamu luas-luas supaya kelentitmu nampak jelas. Mudah sikit kerja menyunat dapat dilakukan.” Pak Imam mengarahkan Ina.

Ina tidak membantah. Setiap arahan Pak Imam dipatuhinya. Baginya lebih cepat acara bersunat ini dilakukan lebih baik. Dia tidak boleh menunggu lama untuk berkahwin dengan tunangnya. Bagi penduduk kampung anak dara seusianya seharusnya sudah berkahwin dan beranak-pinak. Justeru itu Ina tak mahu menunggu lebih lama lagi.

Pak Imam menarik kain batik yang menutup badan Ina sehingga Ina terlentang telanjang bulat. Ditatap wajah dan badan Ina yang cantik tersebut. Jantungnya berdegup kencang dan tekaknya terasa kering. Beberapa kali dia menelan liur melihat pemandangan yang sungguh indah di hadapannya. Gunung kembar yang bengkak dan padat, pingggang yang ramping, perut yang leper dan kempes serta tundun yang tembam dengan dihiasi bulu-bulu hitam yang lebat. Dan yang paling indah ialah sepasang bibir merah yang telah terbuka dan berkilat basah. Aroma yang terbit amat membangkitkan nafsu Pak Imam.

Kerana dialas dengan bantal maka punggung Ina terangkat tinggi. Bahagian tundunnya membusut dan rekahannya terpampang jelas. Mata Pak Imam terpaku dan terfokus kepada bibir tebal yang terbelah itu. Bibir itu masih terkatup rapat tapi rekahannya terlihat jelas. Cairan jernih membasahi dua ulas bibir kemaluan gadis sunti tersebut.

“Kamu kangkang luas-luas supaya mudah kerjaku. Lebih cepat selesai lebih cepat kamu boleh kahwin.”

Ina patuh arahan Pak Imam. Dia memang ingin cepat-cepat kahwin dengan tunangnya. Kedua pahanya dikangkang lebar supaya memudahkan kerja Pak Imam. Belahan di pangkal pahanya terbuka luas. Kelihatan bibir dalamnya berwarna merah dan lembab. Aroma burit muda itu semerbak menerpa hidung Pak Imam.

Pak Imam merapatkan dirinya ke celah kangkang Ina dan membuka lebar-lebar kedua paha yang gebu itu. Pak Imam membuka kedua bibir burit si dara. Kemudian dengan perlahan dipandunya batang pelirnya yang sudah tegang kearah lubang burit Ina yang sudah terbuka. Setelah dirasa tepat, perlahan-lahan Pak Imam pun menekan kepala pelirnya yang kembang ke lurah burit Ina yang merekah melebar. Pak Imam menyondolkan beberapa kali kepala bulat itu ke kelentit Ina. Terangkat-angkat punggung Ina kerana kegelian.

“Kamu tahan saja. Aku nak mulakan acara menyunat ni. Mula-mula kamu akan merasa sedikit sakit, tapi tak lama,” Pak Imam memberi panduan.

Ina hanya mengangguk. Sondolan-sondolan kepala pelir Pak Imam ke kelentitnya menimbulkan rasa sedap dan lazat. Perasaan sebegini belum pernah dirasainya. Dia memejamkan matanya menunggu tindakan lanjut dari Pak Imam.

Pak Imam sudah tak mampu lagi berlama-lama. Bila cairan dari lubang Ina makin banyak mengalir keluar membasahi kepala pelirnya maka Pak Ima mula menekan lebih kuat.Pertama kali kepala pelir tergelincir ke bawah, ke arah lubang dubur Ina. Ina terlonjak kerana terkejut. Percubaan kedua kepala pelir yang berwarna hitam kemerahan itu tergelincir ke atas menyondol kelentit Ina. Ina terasa geli dan nikmat. Kali ketiga Pak Imam memegang batang balaknya. Kepala kembang di arah ke muara burit dara yang mengemut-ngemut.

Peluh mula membasahi dahi Pak Imam. Dia tak boleh kalah dengan anak dara di depannya itu. Hidangan yang tersedia di depan mata harus disantap hangat-hangat. Pak Imam membasahkan lagi kepala pelirnya dengan cairan berahi yang keluar dari lubang burit Ina. Pak Imam tahu Ina juga sedang dilamun nafsu. Cairan licin yang hangat makin banyak keluar. Pak Imam menekan lebih kuat ke arah lubang yang berdenyut-denyut. Kepala bulat terbenam hingga ke takuk. Ditekan lagi dan separuh batang pelir Pak Imam menyelam dengan susah payah.

"Auuw ..akhh... auuww..! " Ina memekik kerana terasa sakit.


“Kamu tahan sikit. Upaca menyunat dah bermula. Sakitnya sekejap saja.”

Peluh bercucuran membasahi tubuh kedua makhluk tersebut. Kegadisan Ina mula ditembusi oleh batang pelir Pak Imam. Pak Imam yang sudah berpengalaman tak ingin serangannya gagal. Tangannya menahan pantat anak dara, paha Ina dibuka lebih lebar. Lalu dengan cepat ditekan balaknya sehingga separuh batang kejantanannya menyelam masuk ke dalam lubang sempit.

Seketika Pak Imam mendiamkan seluruh batang pelirnya terbenam membelah burit muda. Pak Imam menarik nafas kerana batang tuanya masih mampu menerobos lubang sempit. Lubang muda yang pertama kali mengenal batang pelir. Terasa batangnya diramas-ramas dan diurut-urut. Pak Imam tahu yang Ina sedang mengemutkan pukinya. Pak Imam menarik sedikit batan butuhnya dan kemudian menekan lagi dengan lebih kuat. Seluruh batangnya terbenam. Terasa kepala pelirnya menyentuh pangkal rahim Ina. Kemutan Ina dirasakan makin kuat.

Pak Imam mula menggoyang punggungnya maju mundur secara perlahan. Pelir Pak Imam Ina rasakan terlalu besar menusuk buritnya yang masih sempit. Setiap gerakan batang pelir Pak Imam menimbulkan rasa nyeri pada Ina. Tetapi bagi Pak Imam terasa nikmat luar biasa kerana pelirnya tersepit erat oleh rongga burit yang pertama kali dimasuki batang pelir. Inilah nikmatnya gadis perawan muda yang selama ini diidam-idam olehnya.

Pak Imam semakin ganas. Semakin lama batang pelir Pak Imam semakin lancar keluar masuk lubang burit Ina. Cairan pelicin mengalir keluar secara alamiah dari rongga burit. Rasa sakit dikemaluan Ina semakin berkurang. Perasaan enak mula terasa di dinding rongga kemaluannya.

"Ooooh..., aahhh.. ,” mula keluar dari mulut Ina.

Tanpa sengaja suara erangan nikmat mengganti suara rintihan sakit. Akhirnya Ina membiarkan dirinya terbuai dan berpadu bersama goyangan birahi Pak Imam. Ina memejamkan mata berusaha menikmati perasaan enak dan lazat yang pertama kali dirasainya. Pelir Pak Imam kini mulai meluncur tanpa rintangan hingga menyentuh pangkal rahim gadis muda. Ina mengerang setiap kali dia menyondolkan batang pelirnya. Geseran demi geseran, sondolan demi sondolan sungguh membuatkan Ina terbuai dan semakin menikmati proses sunatan ini.

Rintihan panjang akhirnya keluar dari mulut Ina ketika dia mencapai klimaks. Sekujur tubuhnya mengejang beberapa ketika sebelum longlai kembali. Peluh bercucuran membasahi tubuhnya yang bogel sehingga kulitnya yang putih bersih kelihatan berkilat dipanah cahaya. Birahi Pak Imam semakin menggila melihat tubuh anak dara yang begitu cantik dan mengkal tergeletak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang mungil itu menjepit dengan ketat batang pelirnya yang cukup besar itu.

“Sekarang kamu menungging, kamu merangkak. Aku perlu menyunat dari belakang pula.”


Ina hanya menurut. Pak Imam membantu Ina membalikkan badannya hingga posisi tubuh anak dara itu menungging lalu mengarahkan kemaluannya di antara kedua belah paha Ina dari belakang. Dengan sekali sentak Pak Imam menarik pinggul Ina ke arahnya, sehingga kepala pelirnya membelah dan tersepit dengan kuat oleh bibir-bibir burit perempuan muda. Untuk kesekian kalinya pelir laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang burit Ina dan Pak Imam terus menekan pantatnya sehingga perutnya menempel ketat pada pantat mulus Ina. Selanjutnya dengan ganas Pak Imam menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan pelirnya tersepit dan tergesek-gesek di dalam lubang burit yang masih rapat itu.

Ina merasa pangkal rahimnya ditekan-tekan. Hanya perasaan enak saja dirasainya ketika itu. Batang pelir Pak Imam terasa makin tegang dan keras. Batang pelir Pak Imam terasa bergetar dalam lubang burit Ina. Sambil mengerang panjang akhirnya Pak Imam menembakkan air maninya ke dalam rahim ina dengan deras. Benih Pak Imam dirasai hangat dan menerpa mulut rahim Ina. Serentak itu Ina mengalami orgasme sekali lagi. Dia mengerang sakan serentak dengan erangan Pak Imam. Beberapa ketika kemudian suasana menjadi hening dan sepi. Hanya suara nafas Pak Imam terdengar naik turun diatas tubuh ina yang masih menyatu dengan tubuhnya. Ina sudah kehabisan tenaga dan tak mampu bergerak lagi. Begitu juga Pak Imam yang sudah kehabisan tenaga.

“Kamu boleh balik sekarang. Kamu telah aku sunatkan. Jangan lupa datang dua hari lagi supaya bulu-bulu kamu tu boleh aku cukur, sekaligus boleh aku periksa sunat kamu tu dah sembuh ke belum.”

Pak Imam memberi arahan selepas kedua-duanya memakai semula pakaian masing-masing. Ina hanya mengangguk. Dalam hati dia berfikir, dia sanggup disunat tiap hari kalau beginilah caranya. Bukanlah sakit tapi sedap. Ina tersenyum sambil melangkah keluar dari rumah Pak Imam.
----------
***Cadangan penambahbaikan: teratai1108@gmail.com
...
Hardcore Kakis

teratai's Avatar

Join Date: Jan 2007
Posts: 267
Reply With Quote Multi-Quote This MessageReport Post
Old 11-10-2010, 12:07 PM #98
Ratu sekolah

RATU SEKOLAH

Oleh: Teratai
Hampir satu dekad kami berpisah setelah tamat SPM tiba-tiba berjumpa kembali dalam satu pertemuan yang dianjur oleh syarikat induk kami. Mimi Nursyuhada Atiqah bertugas di bahagian sumber manusia sedangkan aku bertugas di bahagian kejuruteraan. Dia bertugas di ibu pejabat sedangkan aku bertugas di cawangan syarikat di selatan tanah air.

Mimi tetap seperti di sekolah dulu - cantik, anggun dan bergaya. Malah sekarang ini makin terserlah kecantikan dan keayuannya. Kerana cantiknya dia telah dinobat sebagai ratu sekolah. Kerana cantiknya juga dia menjadi kegilaan pelajar lelaki. Tiap pelajar lelaki memasang angan-angan untuk menjadi kekasihnya tapi tiada siapa pun yang berani meluahkan isi hati masing-masing. Aku sendiri pun termasuk dalam kelompok yang memasang angan-angan itu.

Malam itu Mimi menghampiriku selepas majlis makan malam rasmi. Dia menyapaku dan memperkenalkan dirinya. Sebenarnya tanpa diperkenal pun aku mengenalinya. Siapa yang tak kenal ratu sekolah yang menjadi bunga pujaan kumbang-kumbang.

“Ini Amir, kan?” Mimi nenyapaku.

“Ya, saya Amir. Awak Mimi, saya dah kenal sejak sekolah dulu.”

“Awak masih ingat saya?”

“Siapa yang tak ingat you. Mungkin orang buta saja yang tak mengenali ratu sekolah yang cantik lawa.”

“Ah! you ni ada-ada saja,” balas Mimi dengan seyuman simpul yang sungguh manis.

Malam itu Mimi mengenakan blaus sutera dengan skirt hitam separas lutut. Rambutnya yang lurus separas bahu itu menambahkan keseksiannya. Kecantikannya terserlah pada malam itu. Berpasang-pasang biji mata tak lekang memandang Mimi yang sungguh anggun bagaikan ratu. Aku rasa sungguh bertuah kerana diajak berbual oleh Mimi.


Hampir satu jam berbual Mimi mengajak aku ke tingkat atas. Kami tinggal se hotel tapi pada tingkat yang berbeza. Dia ditingkat lima semenara aku di tingkat sepuluh. Dia mengajak aku menyambung bualan bila pintu lif terbuka di tingkat lima. Dia bersungguh-sungguh mempelawa hingga aku tak kuasa menolaknya.

Sampai di bilik, kami duduk di sofa sambil minum dan berbual tentang banyak perkara tentunya kisah-kisah suka, duka, lucu sewaktu kami di sekolah dulu. Tanpa berselindung aku memecahkan rahsia bahawa sebahagian besar pelajar lelaki memuja Mimi yang anggun itu dari jauh. Kami tak berani meluahkan perasaan masing-masing kerana bimbang akan kecewa. Maklumkan kami hanya pelajar lelaki biasa sedangkan dia adalah ratu sekolah.


Bila saja sampai ke tajuk keadaan sekarang tiba-tiba saja wajah Mimi menjadi mendung. Dari ceritanya dia telah berpisah dengan kekasihnya yang telah dikenali lebih dua tahun. Kekasihnya itu telah jatuh ke dalam pelukan seorang datin separuh baya yang kaya raya. Sekarang pun dia masih bersedih atas kejadian yang menimpanya. Aku berbisik dalam hati, betapa bodohnya lelaki itu kerana meninggalkan seorang ratu yang menjadi kegilaan murid-murid lelaki di sekolah.

Aku memujuk Mimi. Aku merangkul lembut bahunya. Aku tepuk perlahan-lahan tangannya. Kiranya aku ketika itu berperanan sebagai kaunselor yang mendengar luahan hati Mimi. Mimi yang berada di samping sesekali merapatkan badannya ke tubuhku bila terasa kesejukan pendingin udara. Sesekali bila terkenang balik cerita masa dulu, tiba-tiba suasana terasa sangat hening dan romantis. Diluar kesadaran Mimi memegang tanganku dan meramasnya perlahan. Langsung saja aku merasakan satu perasaan aneh mula menjalar dalam tubuhku.

Mimi kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku sambil merapatkan lagi tubuhnya ke tubuhku. Perlahan kucium kepalanya. Rambutnya yang harum itu menusuk jiwaku.Tangannya makin kuat meramas-ramas tanganku dan tangan kirinya mula memaut pinggangku. Dan perlahan juga bibirku bergerak menelusuri rambutnya terus turun ke telinganya. Aku menjilat perlahan cuping dan daun telinganya. Mimi menggeliat geli sambil mempereratkan pelukannya. Kini kedua tangannya memeluk kemas pinggangku dan sesekali mengerang kecil menikmati permainan mulutku yang terus menelusuri pipin, leher lalu naik lagi ke dagu.


"Aaahhhhhh.." Mimi mula merintih kecil ketika bibirku sampai ke bibirnya.

Tiba-tiba dia menutup matanya ketika bibirku menyentuh lembut bibirnya. Dengan lembut dia membalas. Dia membuka mulut mngilnya dan menerima lidahku yang meneroka mulut hangatnya. Dengan buas aku mengulum lidah Mimi yang bergerak lincah di dalam mulutku. Tangan kiriku mula merayap ke atas dari arah pinggang terus ke perut, naik perlahan ke buah dada kanan. Dengan tapak tangan kiriku, perlahan kutekan buah dadanya sambil memutar-mutarkan tanganku lembut. Mimi mula menggoyangkan dadanya dan sesekali menggerakkannya berlawanan dengan arah tanganku. Nafas Mimi semakin mendesah.


Aku menghentikan permainan di buah dadanya dan merayap menuju ke butang bajunya yang teratas. Dengan perasaan sedikit gementar, jemariku mantap membuka butang yang pertama, kedua, ketiga sampai habis. Sambil terus mengucup bibirnya aku melirik ke arah dadanya yang terbuka itu. Betapa indahnya. Sungguh halus dan icinnya. Kulit yang membalutnya begitu putih dan gebu sampaikan urat-urat halus yang berwarna biru itu nampak terbayang di pangkal bukitnya.


Aku menghentikan ciumanku tiba-tiba. Batangku yang semakin keras terasa sedikit sakit kerana tersepit di dalam seluar.


“Kenapa Mir?” Mimi bertanya.

“You sungguh cantik, malah lebih cantik dari dulu.” Aku cuba berhelah.

“Itu biasalah, ayat lelaki.”

“Betul Mimi. Kalaulah ada bidadari dalam bilik ini pasti dia akan cemburu melihat kecantikan you.”

“You nakal Mir,” Mimi tersenyum lawa sambil mencubit pinggangku.

Kesempatan itu dengan cepat kuraih Mimi dalam pelukanku kembali dan menciumnya mesra dan lembut. Serentak itu juga kedua tanganku menyusup ke belakang Mimi bra Thriump hitamnya jatuh ke bawah. Aku mengalihkan tangan kiriku ke depan. Dengan tapak tangan menekan lembut buah dada kanannya yang empuk, aku menggentel-gentel lembut putingnya dengan jari telunjuk dan jari hantuku. Puting yang semakin keras itu semakin membesar kurasakan. Tubuh Mimi bergetar. Nafasnya mula semakin berat.

"Aaaahhhhh... Mir."

Mimi memeluk erat leherku dan meletakkan dagunya di bahuku sambil terus merintih dan mendengus lembut menikmati jariku di puting buah dadanya. Aku pun dengan cepat memindahkan tanganku meramas buah dada kirinya. Mata Mimi layu dan dengusan nafasnya semakin kuat.

Selang beberapa minit, aku turunkan tangan kiriku dan mula meraba paha kanan Mimi yang terletak di atas paha kirinya. Dengan lembut tanganku merayap ke atas menikmati kehalusan pahanya.Tanganku menyusup ke dalam skirtnya dan mengelus lembut pantiesnya. Dengan gerakan gugup Mimi menurunkan dan membuka kedua pahanya bagaikan memberikan jalan untukku.


“Oooohh.....”

Bagaikan mendapat lampu hijau dengan pantas aku meramas cipapnya yang empuk di sebalik pantiesnya yang terasa basah. Aku menggosok-gosokkan jari hantuku dari hujung atas hingga bawah liang cipap yang sempit itu. Jariku bermain sepanjang garis liang cipapnya. Jariku terasa lembab dan licin. Mimi mempereratkan pelukannya di leherku.

Tiba-tiba Mimi menjerit kecil ketika dirasakannya tanganku secara perlahan mula menarik pantiesnya ke bawah.


“Mir, jangan....” katanya terbata-bata sambil merapatkan pahanya sehingga panties yang berwarna hitam itu tersangkut di lututnya.

Aku mencium pipi Mimi dengan mesra. Aku peluk erat badannya dan kuramas mesra gunung kembar yang mengkal kenyal.

"Really? Do you really mean it?" Aku berbisik lembut di cuping telinganya.

Mimi terdiam mendengar kata-kataku. Dia mula membuka kembali pahanya. Aku tersenyum dalam hati. Umpanku dah mengena, hanya tinggal menyetaknya untuk satapan lazat. Dengan sekali tarik terjatuhlah pantiesnya ke lantai. Mimi memejamkan matanya dengan rapat.

Mimi mula menggoyang-goyangkan punggungnya ketika jariku semakin rancak membelai liang cipapnya yang sudah semakin banjir. Matanya semakin kuyu dan sesekali dipejam-celik apabila jariku mula menggentel biji merah membengkak yang tertonjol di sudut cipapnya.

"Mir, aahhh... ooohhhh...”


Mimi merintih dan mengerang sambil menggeliat-geliatkan tubuhnya yang seksi itu. Buah dadanya yang empuk dan kenyal terasa menikam dadaku, berguncang-guncang dan menggesel-gesel lembut. Perlahan aku menurunkan mukaku ke arah dadanya dan dengan cepat bibirku menangkap kedua buah dada ranum itu. Bibir dan lidahku bermain, menggentel dan menyedut kedua-dua puting dan buah dadanya.

"Mir, aahhh... ooohhhh...”

Bila Mimi makin layu dan kuyu, aku bangun dan dengan cepat membuka bajuku. Sambil tersenyum, aku membuka pula seluarku. Kulihat mata Mimi tertumpu pada bahagian yang menonjol di kelangkangku. Aku mendekati wajah Mimi yang menanti dengan pandangan penuh syahdu sedang dibakar nafsu. Kukucup bibirnya dengan lembut sambil kulepaskan baju sutera nipisnya sehingga bahagian atas tubuhnya terpampang jelas.

Tubuhnya sungguh indah dan menakjubkan. Aku terpegun melihat Mimi yang sedang dikuasai nafsu yang amat mengghairahkan. Perlahan kubaringkan tubuh seksi yang masih berskirt itu di atas sofa yang cukup lebar dalam bilik yang dingin itu. Lalu perlahan kutindih tubuh montok itu dan aku mula mencium bibir, leher, telinga, dan pipi Mimi. Mimi kian mendesah dan memeluk leherku dengan erat. Aku merasakan kenyalnya buah dada Mimi yang menikam dadaku. Sambil bibirku terus beraksi, aku mula membuka kedua paha Mimi sambil menyelakkan skirtnya ke atas hingga menutupi perutnya. Cipapnya yang terpampang empuk dan ranum itu seolah menggamitku untuk segera dijamah.

Mimi mengeliat semakin kuat apabila kutempelkan batangku selari dengan alur cipapnya. Dan sambil perlahan-lahan aku memutar-mutarkan punggungku untuk merasai dan menikmati sensasi yang kian terasa. Sambil tangan kiriku meramas-ramas lembut buah dada Mimi yang kenyal itu, tangan kananku mula turun ke bawah dan menolak seluar dalamku hingga ke paras lutut. Batangku yang makin mengeras itu kini bergeselan dengan cipap empuk Mimi tanpa sebarang alas lagi.


"Mir, aahhh... ooohhhh...”

Mimi merintih ketika aku mula menggerakkan punggungku membuatkan batangku yang keras itu menggesel-gesel biji kenikmatannya yang semakin membengkak. Mimi memutar punggungnya mengikut goyangan punggungku. Suara rintihan, dengusan nafas, dan kucupan mesra memenuhi ruang bilik itu. Peluh mula bercucuran di wajah Mimi. Dengan mata terpejam, mulut separuh terbuka dan wajah kenikmatan Mimi amat merangsang perasaanku. Dia makin memperhebatkan putaran punggungnya.

Aku tahu, Mimi mula merasai sensasi yang tidak mampu tertahan lagi. Sensasi lazat dan nikmat yang hanya dirasai oleh pasangan yang sedang bercinta. Aku kembali mencium muka, leher dan buah dada Mimi. Kali ini dengan gerakan dan mainan lidah yang buas dan rakus. Batangku yang melintang di atas liang cipapnya kugesel-gesel dengan cepat. Mimi kembali menggelinjang dan menjerit-jerit nikmat. Kali ini suaranya makin kuat dan lantang.


"Mir, aahhh... ooohhhh...”

"U like it, Mimi. U like it?"

"Hmm... Yess Mir.... aarrghhhh..."

Mimi mengangguk sambil mengeluh kuat ketika mulutku dengan keras menyedut puting kedua-dua buah dadanya. Tiba-tiba Mimi memeluk kepalaku yang masih melekap di dadanya dengan kuat. Diramas-ramas rambutku dan belakangku digaru-garu secara liar dengan kukunya yang tajam.

"Mir, aahhh... ooohhhh...”

Mimi mengerang dan menjerit perlahan sambil menyemburkan cairan hangat dari liang cipapnya. Aku tak sangka begitu cepat sekali Mimi mengalami orgasmenya. Agaknya sudah lama dia tidak mendapat belaian lelaki. Justeru itu nafsunya cepat membara dan ghairahnya menggebu-gebu hingga pantas saja dia mencapai klimaks. Mulutku terus menyedut dan memintal puting susunya yang mengeras semakin kuat. Tubuh Mimi menggelepar sejenak dan kejang selama beberapa saat. Nafasnya laju dan memburu. Cairan lendir panas semakin membanjir.

Untuk beberapa ketika aku membiarkan Mimi menikmati sensasi pertama yang dirasakannya. Permainan masih panjang, bisikku dalam hati. Mimi menggeliat perlahan di bawah pelukanku. Merasakan batangku masih keras dan kenyal menempel di bukit cipapnya, Mimi perlahan menghulurkan tangannya yang lembut itu ke bawah dan perlahan juga menggenggam dan meramas-ramas lembut batangku. Merasakan kenikmatan yang belum tercapai, aku membalikkan tubuhku menyandar di sofa. Mimi tersenyum sambil menyandarkan kepalanyanya ke dadaku. Tangannya yang comel itu mengelus batangku yang masih mengeras.


“Besar dan panjang batang U.”

“Kenapa? U tak suka?”

Mimi mencubit pahaku sambil tersenyum nakal. Perlahan-lahan kepalanya bergerak ke pangkal pahaku. Diurut-urut batangku yang keras terpacak macam tiang bendera. Secara perlahan Mimi mencium kepala torpedoku yang berkilat. Kemudian lidahnya yang merah mula keluar dari mulut mungilnya dan berlabuh di hujung zakarku. Dia mula menjilat perlahan-lahan. Mula-mula kepala kemudian turun ke bahagian batang dan berlabuh di kedua telurku yang berbulu.

Puas menjilat, Mimi mengelus batang kerasku di pipi dan mukanya. Kepala pelirku dikucup penuh mesra. Bibir merahnya yang basah merekah kemudian membelah dan terbuka. Kepala batangku yang berdenyut-denyut dimasukkan sedikit demi sedikit dan separuhnya telah berada dalam mulutnya yang suam. Lalu diletakkannya di atas lidahnya. Kemudian dikatupkannya bibirnya sehingga menyepit bahagian tengah batangku yang tegang itu. Lidah dan langit-langit mulutnya bergerak menyedut sehingga aku merasakan batangku diramas-ramas.

Dengan perasaan penuh ghairah dan penuh nafsu diiringi nafas yang tersekat-sekat, Mimi mula mengisap dan menyedut batangku. Dikulum dan dihisap penuh mesra. Aku dapat merasakan Mimi memang pakar dalam melakukan blowjob. Kelihat seperti seorang profesional. Aku menikmati kesedapan dan kelazatan tersebut. Siapa yang tidak suka bila batang pelirnya dikulum dan dihisap seorang wanita yang cantik jelita.


”Aahhh... Mimi sedapnya.” Sekarang giliran aku pula yang mengerang.


Aku kagum dengan layanan Mimi. Tangan kanannya kini mula meramas-ramas batangku sambil bergerak naik turun mengikut gerakan mulutnya menyedut dan menghisap. Aku terpesona dengan kemahiran gadis ini, diluar jangkaan. Kedua buah dadanya yang mengkal itu ikut bergetar-getar mengikut gerakan mulutnya memainkan batangku. Aku meraih kedua buah dada itu dan mula meramas-ramas dengan bergairah.

"Emmm... emmmmmhhhhhh..." Mimi mula menjerit-jerit sambil terus mengulum batangku.

Tiba-tiba Mimi melepaskan kulumannya dan bergerak ke atas. Wajahnya mengadap mukaku. Dengan buas Mimi memeluk leherku dan bibirnya menjamah bibirku. Dengan rakus dia menggomol bibir dan mukaku.


“Mir, I dah tak tahan. I nak rasa batang you.”

Masanya dah tiba. Aku tersenyum puas. Permainan sebenar akan bermula. Aku akan pastikan Mimi akan mengemis meminta-minta batang besar panjang kepunyaanku....

----------
***Cadangan penambahbaikan: teratai1108@gmail.com
...
Hardcore Kakis

teratai's Avatar

Join Date: Jan 2007
Posts: 267
Reply With Quote Multi-Quote This MessageReport Post
Old 17-10-2010, 10:50 PM #99
Pemuda afrika 2

PEMUDA AFRIKA 2

Oleh: Teratai

Selepas berehat selama lima minit tenaga kami pulih semula. Jim yang masih megidam menikmati perempuan melayu mula memeluk tubuhku. Tubuh hitamnya yang berbulu merangkul erat tubuhku yang mulus. Terasa geli bila bulu-bulu yang subur tumbuh di badannya menyapu-nyapu kulit tubuhku.

Dengan tubuhnya melekat ke tubuhku, bibirku dilumatnya dengan lembut. Ternyata dikucup pemuda berbibir tebal terasa nikmat sekali. Aku boleh mengulum bibirnya lebih kuat dan ketebalan bibirnya memenuhi mulutku. Sensasi nikmat yang belum pernah kudapat. Sedang kunikmati lidah Jim yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangan besarnya meramas lembut payudaraku. Tangan besarnya itu memberi sensasi nikmat tiada tara. Padahal permainan baru saja bermula.

Bibir Jim beradu dengan bibirku dan terus ke leherku. Leherku dikecup, dijilat dan kadang-kadang digigit lembut sambil tangannya terus meramas-ramas payudaraku. Tubuhnya sudah di atasku, bibirnya terus menelusur di permukaan kulitku. Dan mulai puting kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Kadang-kadang seolah seluruh payudaraku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai menjamah kemaluanku yang pasti sudah basah. Dibelainya buluku yang hanya sedikit. Sesekali jarinya menyentuh kelentitku.

Bergetar semua rasanya tubuhku, dan jarinya mulai memainkan kelentitku. Dan akhirnya jari besar itu masuk ke dalam buritku. Oh... nikmatnya, bibirnya terus bergantian menjilat puting kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku. Dan akhirnya sampailah ke kemaluanku. Kali ini diciumnya bulu tipis kemaluanku dan aku rasakan bibir kemaluanku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali kemaluanku dibuat mainan oleh bibir Jim, kadang bibirnya dihisap, kadang kelentitku, namun yang membuat aku tak tahan adalah ketika lidahnya masuk di antara kedua bibir kemaluanku sambil menghisap kelentitku. Jim benar-benar mahir memainkan kemaluanku. Hanya dalam beberapa minit aku benar-benar tak tahan.

Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku mengerang sambil mengangkat punggungku supaya merapatkan kelentitku dengan mulutnya, kuramas-ramas kepalanya yang dihiasi rambut hitam keriting. Aku orgasme hanya dengan bibir dan lidah Jim. Jim terus mencumbu kemaluanku, rasanya belum puas dia memainkan kemaluanku hingga kembali bangkit birahiku dengan cepat.

“Jim... please fuck me, please..” kataku mengemis sambil kubuka pahaku lebih lebar.

Jim bangkit memperlihat senjata ampuhnya. Dan aku dengan berdebar menunggu dan berharap. Sepintas kulihat, kemaluan Jim sudah maksimal, tegak hampir menempel ke perut. Dan ketika Jim pelan-pelan kembali menindihku, aku membuka pahaku makin lebar. Rasanya tidak sabar lubang buritku menunggu masuknya kemaluan raksasa itu. Aku pejamkan mata. Dan Jim mulai mendakapku sambil terus mencium bibirku lagi, kurasakan di antara bibir kemaluanku mulai tersentuh ujung pelir raksasa. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir kemaluanku terkuak menyamping. Terdesak benda besar itu. Ohh, benar-benar kurasakan penuh dan padat liang kemaluanku dimasuki batang dari Afrika itu. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Inci per inci senjata itu menyelam. Pelan sekali terus masuk ke kemaluanku.

Aku mengerang tertahan-tahan kerana rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus... terus... Akhirnya ujung pelir yang diimport dari Afrika itu menyentuh bahagian dalam kemaluanku, menyondol batu meriyanku dan secara refleks kurapatkan pahaku. Aneh, sungguh aneh dan aku sedikit terkejut. Ternyata batang besar itu seperti mengganjal sekali rasanya. Penuh dan padat memenuhi lubang kemaluanku. Situasi inilah yang tidak pernah aku rasai dari pemuda Asia, khususnya pemuda melayu yang mempunyai batang kecil dan pendek.

Jim terus menciumi bibir dan leherku. Dan tangannya tak henti-henti meramas-ramas tetekku. Tapi konsentrasi kenikmatanku tetap pada balak besar yang mulai beraksi didayung halus dan pelan. Mungkin Jim menyedarinya, supaya aku tidak kesakitan. Aku benar-benar cepat terbawa ke puncak nikmat yang belum pernah kualami. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar-benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan zakar besar itu. Kenikmatan, keanehan, tidak mampu kutuliskan.

Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan Jim tahu bahwa aku semakin hanyut. Maka makin menggebu-gebu dia melumat bibirku, leherku dan ramasan tangannya makin kuat. Dengan tikaman kemaluan Jim yang agak kuat dan digesel ke kelentitku, diteruskan dengan menggoyang-goyangnya, aku menggelepar, tubuhku mengejang, tanganku mencengkam kuat-kuat bahagian belakangnya. Vaginaku menegang, berdenyut dan mencengkam kuat-kuat, benar-benar puncak kenikmatan yang belum pernah kualami senikmat seperti sekarang. Ohh, aku benar benar menerima kenikmatan yang luar biasa. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan.

“Jim... oohhh.... aahhhh....”

Aku sendiri terkejut dengan jeritan kuatku. Aku melolong bagaikan serigala di malam pekat. Kelazatan dan kenikmatan terhebat yang pernah aku rasa. Oh! setelah selesai, pelan-pelan tubuhku longlai dan lemas. Setelah dua kali aku orgasme dalam waktu relatif singkat, namun terasa nyaman dan nikmat sekali. Jim membelai rambutku yang basah dengan keringat yang mengalir desar dari pori-pori badanku. Kubuka mataku, Jim tersenyum dan menciumku lembut sekali. Rambutku yang basah dan badanku yang lencun di cium bernafsu. Tangan besarnya tak henti-henti meramas tetekku secara lembut dan pelan.

Tiba-tiba serangan cepat bibirnya melumat bibirku kuat dan diteruskan ke leher serta tangannya meramas-ramas tetekku lebih kuat. Birahiku naik lagi dengan cepat, ketika Jim kembali mengepamkan batang besarnya semakin cepat. Uuhh, sekali lagi aku mencapai orgasme, yang hanya selang beberapa minit, dan kembali aku berteriak lebih keras lagi.
Jim terus mendayung torpedonya dan kali ini Jim ikut menggelepar, wajahnya mendongak ke atas. Satu tangannya mencengkam lenganku dan satunya menekan tetekku. Aku makin meronta-ronta tak keruan.

Rupanya Jim telah mencapai puncak kenikmatan diikuti semburan sperma yang kuat di dalam vaginaku, menyembur berulang kali, seperti yang pernah kulihat. Oh, terasa banyak sekali cairan kental dan hangat menyembur dan memenuhi vaginaku, hangat sekali dan terasa sekali cairan yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat. Setelah selesai, Jim mengiringkan tubuhnya dan tangannya tetap meramas lembut payudaraku sambil mencium wajahku. Aku senang dengan perlakuannya terhadapku.

“Reen, kamu luar biasa, kemaluanmu pintar dan nikmat sekali, small hole but very strong,” pujinya sambil membelai dadaku.

“Kamu juga. Kamu hebat. Mampu membuat aku orgasme beberapa kali, dan baru kali ini aku menikmati multiple orgasm beberapa kali dan merasakan penis raksasa. Hihi..”


“Jadi kamu suka dengan punyaku?” godanya sambil menggerakkan pelirnya dan membelai belai wajahku.

“Yes Jim, you have very wonderfull penis, very big, hard and long,” jawabku sejujurnya.


Selama ini aku hanya berimaginasi dan membayangkan batang besar panjang tiap kali menonton video lucah. Sekarang aku benar-benar merasainya dan ternyata memang luar biasa.

Jim memang sangat pandai melayan wanita. Dia tidak langsung mencabut pelirnya, tapi malah mengajak berbual sehingga pelirnya makin mengecil. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai rambutku dan paling suka membelai tetekku. Aku merasakan cairan sperma yang bercampur cairanku mengalir keluar. Serentak itu batang hitam yang berlumuran lendiran putih tercabut keluar.

Aku tersenyum melihat batang yang tadinya sungguh gagah kini lembek dan mengecil. Aku tak mahu pulang lagi kerana aku ketagih untuk menikmatinya lagi. Pemuda melayu yang memiliki batang kecil dan pendek tak seharusnya cemburu jika gadis-gadis melayu menggilai pemuda Afrika. Mereka memang handal....